Blog ini di buat untuk sekedar share ilmu khususnya ilmu keperawatan yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber. Mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam materi yang di posting di blog ini untuk itu mohon masukan dan kritikannya dan jangan lupa kalau copas disertakan yah url blognya sebagai referensi hehehe. (Semoga bermanfaat).

Sabtu, 25 Juli 2015

PENGGUNAAN DIRI SECARA EFEKTIF


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
            Perawat perlu menyadari bahwa semua tindakan keperawatan dilaksanakan dalam bentuk komunikasi (nonverbal/verbal). Oleh karena itu, perawat mengetahui fungsi komunikasi dan sikap serta keterampilan yang perlu dikembangkan dalam komuikasi dengan klien. Hal-hal yang harus kita lakukan saan berhadapan dengan pasien.
Keadaan stress dan cemas yang dialami klien sering tidak berhubungan dengan fasilitas di rumah sakit, melainkan biasanya karena tidak diberitahu penyakitnya, pertanyaan yang disepelekan, tidak mengetahui alasan dan hasil prosedur yang dilakukan atau pengobatan. Situasi tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi perawat-klien. Perawat perlu menyadari diri sendiri termasuk sikap dan caranya berkomunikasi sebelum menggunakan dirinya secara terapeutik untuk membantu kerjasama dengan klien dalam memecahkan dan mengatasi masalah kesehatan klien.


1.2    Rumusan Masalah
Bagaimana penggunaan diri secara efektif dalam keperawatan itu ?

1.3    Tujuan
Makalah ini di buat dengan  tujuan agar mahasiswa dan tenaga medis khususnya dapat memahami penggunaan diri secara efektif dan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan dasar.


1.4    Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan langsung dalam proses keperawatan hususnya tentang penggunaan diri secara efektif.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Menghadirkan diri.
Perawat tidak cukup mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi, tetapi yang sangat penting adalah sikap dan penampilan dalam komunikasi.
Kehadiran fisik, menurut Evans mengidentifikasi 4 sikap dan cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu : 
·         Berhadapan : arti dari posisi ini yaitu "saya siap utnuk anda"
·         Mempertahankan kontak mata : berarti mengahargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
·         Membungkuk ke arah klien : posisi ini menunjukkan keinginan atau mendengar sesuatu
·         Tetap rileks : dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam merespon klien.
Adapun fungsi komunikasi dalam pembuatan asuhan keperawatan menurut Engel dan Morgen yaitu
1.      Komunikasi dapat membina hubungan saling percaya dengan klien,
2.      Komunikasi dapat menetapkan peran dan tanggungjawab antara perawat-klien,
3.      Komunikasi juga memudahkan kita untuk mendapat data yang tepat dan akurat dari klien.

2.2 Dimensi respon
Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, simpati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal hubungan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi terbuka. Respon ini terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.
1. Keikhlasan
Perawat menyatakan keikhlasan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan dan berperan aktif dalam hubungan dengan klien
2. Menghargai
Rasa menghargai dapat diwujudkan dengan duduk diam bersama klien yang menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien.
3. Empati
Perawat memandang dalam pandangan klien, merasakan melalui perasaan klien dan kemudian mengidentifikasi masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut
4. Konkrit
perawat menggunakan terminologi yang spesifik, bukan abstrak. Fungsinya yaitu, mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien, memberikan penjelasan yang akurat dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.

2.3 Dimensi tindakan.
Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emosional katarsis, dan bermain peran (Stuart da Sundeen, 1987 : 131)
a. Konfrontasi
Konfrontasi adalah perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai. Konfrontasi berguna untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap, kepercayaan, dan perilaku. Konfrontasi sangat diperlukan klien yang telah mempunyai kesadaran tetapi belum merubah perilakunya. Konfrontasi juga merupakan proses interpersonal yang digunakan oleh perawat untuk memfasilitasi, memodifikasi dan peluasan dari gambaran diri orang lain.
Tujuan dari konfrontasi : agar orang lain sadar adanya ketidaksesuaian pada dirinya
Dua bagian konfrontasi
-  Membuat orang lain sadar terhadap perilaku yang tidak produktif/merusak
-  Membuat pertimbangan tentang bagaimana dia bertingkah laku yang lebih produktif dengan   jelas dan konstruktif
Waktu yang tepat dilakukkannya konfrontasi
-  Tingkah lakunya tidak produktif
-  Tingkah lakunya merusak
-   Ketika mereka melanggar hak kita atau hak orang lain
Cara melakukan konfrontasi
-   Clarify : membuat sesuatu lebih jelas untuk dimengerti
-   Articulate : dapat mengekspresikan opini diri sendiri dengan kata – kata yang jelas
-   Request : permintaan
-   Encourage : memberikan support, harapan dan kepercayaan
Tiga kategori konfrontasi yaitu:
-   Ketidak sesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan klien)
-   Ketidak sesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku klien
-   Ketidak sesuaian antara pengalaman klien dan perawat

b. Kesegeraan
Perawat sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera. Kesegeraan terjadi jika interaksi perawat klien difokuskan dan digunakan untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat harus sensitive terhadap perasaan klien dan berkeinginan untuk membantu dengan segera

c. Keterbukaan perawat
Membuka diri adalah membuat orang lain tahu tentang pikiran, perasaan, pengalaman pribadi kita. Membuka diri diperlukan saat perawat ingin meningkatkan pemahaman, kekuatan dan kepercayaan klien. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang sama dengan pengalaman klien. Tukar pengalaman ini memberi keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberikan sokongan.
Cara membuka diri :
-  Mendengar
-  Empati
-  Membuka diri
-  Mengecek

d. "Emosional Catharsis"
Emosional katarsis tejadi jika klien diminta untuk bicara tentang hal yang menganggu dirinya. Perawat harus megkaji kesiapan klien untuk mendiskusikan masalahnya. Jika klien mengalami kesukaran dalam mengekspresika perasaannya, perawat dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien. Jika klien menyadari bahwa ia mengekspresikan perasaan dalam suasan menerima dan aman maka klien akan memperluas kesadaran dan penerimaan pada dirinya. Klien didorong untuk membicarakan hal – hal yang sangat mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Disini perlu pengkajian dan kesiapan klien untuk mendikusikan masalahnya. Jika klien sulit mengungkapkan perasaannya perawat perlu membantu mengekspresikan perasaannya jika ia berada pada situasi klein

e. Bermain Peran
Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang lain. Bermain peran menjembatani antara pikirandan perilaku serta klien merasa bebas mempraktekan perilaku baru pada lingkungan yang nyaman. Tindakan untuk membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien kedalam hubungan manusia dan memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut pandang lain dan juga memperkenalkan klien untuk mencobakan situasi baru dalam lingkungan yang aman.

2.4 Komunikasi verbal dan non verbal
A.     Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar. Dalam komunikasi verbal itu bahasa memegang peranan penting. Jenis komunikasi ini yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.

Komunikasi verbal yang efektif harus :
1. Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.



2. Perbendaharaan kata
Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien.
3. Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.
4. Selaan dan kesempatan bicara
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata.. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.
5. Waktu dan relevansi
Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.
6. Humor
Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.


B. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan katakata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.

Komunikasi non-verbal teramati pada:

1. Metakomunikasi.
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara Pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.

2. Penampilan Personal.
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seserang berdasarkan penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993).
Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekrjaan, agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang perawat. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra klien.

3. Intonasi (Nada Suara).
Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya. Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.
4. Ekspresi wajah.
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.

5. Sikap tubuh dan langkah.
Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri dan keadaan fisik. Perawat dapat mengumpilkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat, atau fraktur.

6. Sentuhan
Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun harus memperhatikan norma sosial. Sentuhan dengan berjabat tangan ketika berkenalan dapat mendekatkan diri kita kepada pasien. Konsep sentuhan yang terapeutik adalah dengan menggunakan sikap terbuka dalam membatu pasien yang mengalami sakit atau memerlukan bantuan.

Empat phase hubungan perawat pasien yang berkatian dengan tanggungjawab dan tugas perawat kesehatan terhadap pasien adalah :
1. Orientasi ( orientation ), pada phase ini seorang perawat harus mampu menangkap bahwa pasien ingin mencari kesembuhan penyakitnya dan dia mempercayakan dirinya dirawat oleh perawat. Dengan pengenalan.
2. Indetifikasi ( identification ),  interaksi perawat – pasien hendaknya berbasis pada kepercayaan, penerimaan, pengertian, relasi yang saling membantu.
3. Eksploitasi ( exploitation ), interrrelasi perawat – pasien, akan menumbuhkan pengertian pasien terhadap proses system asuhan, sehingga pasien mempunyai keterlibatan aktif yang muncul dari dirinya karena ingin cepat sembuh dari sakitnya. Aspek lain pasien dapat ditimbulkan pengertian, dan kesadaran self – care, sehingga peran perawat dan pasien dalam proses keperawatan untuk mencapai penyembuhan terjadi dengan baik ( kolaborasi ). .
4. Resolusi ( resolution ). Harapan, kebutuhan pasien dapat diketahui melalui hubungan kesetaraan perawat – pasien dengan menggunakan komunikasi efektif. Harapan, kebutuhan pasien  merupakan data yang menjadi arah tindakan apa yang perlu dilakukan terhadap pasiennya Phase yang keempat ini sering kali disebut dengan phase terminasi.

Dalam melakukan proses komunikasi interpersonal dipengaruhi oleh beberapa hal terhadap isi pesan dan sikap penyampaian pesan antara lain:
v Perkembangan. Pada prinsipnya dalam berkomunikasi yang perlu diperhatikan adalah siapa yang diajak berkomunikasi. Maka dalam berkomunikasi isi pesan dan sikap menyampaikan pesan harus disesuaikan apakah yang kita ajak bicara adalah anak-anak, remaja, dewasa atau usia lanjut. Pasti akan berbeda dalam berkomunikasi
v Persepsi. Persepsi adalah pandangan personal terhadap suatu kejadian. Persepsi dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Kadangkala persepsi merupakan suatu hambatan kita dalam berkomunikasi. Karena apa yang kita persepsikan belum tentu sama dengan yang dipersepsikan oleh orang lain.Nilai. Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga sangat penting bagi pemberi pelayanan kesehatan untuk menyadari nilai seseorang.
v Latar belakang budaya. Gaya berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor budaya. Budaya inilah yang akan membatasi cara bertindak dan berkomunikasi.
v Emosi. Emosi adalah perasaan subjektif tentang suatu peristiwa. Dalam berkomunikasi kita harus tahu emosi dari orang yang akan kita ajak berkomunikasi. Karena emosi ini dapat menyebabkan salah tafsir atau pesan tidak sampai.
v Pengetahuan. Komunikasi akan sulit dilakukan jika orang yang kitan ajak berkomunikasi memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Untuk itu maka kita harus bisa menempatkan diri sesuai dengan tingkat pengetahuan yang kita ajak bicara
v Peran. Gaya komunikasi harus di sesuaikan dengan peran yang sedang kita lakukan. Misalnya ketika kita berperan membantu pasien akan berbeda ketika kita berperan atau berkomunikasi dengan tenaga kesehatan yang lain.
v Tatanan interaksi. Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam lingkungan yang menunjang. Kalau tempatnya bising, ruangan sempti, tidak leluasa untuk berkomunikasi dapat mengakibatkan ketegangan dan tidak nyaman.

Faktor yang mempengaruhi hubungan perawat-pasien yang berkualitas :
1. Kehangatan dan ketulusan
Bersikap hangat dan tulus bukanlah suatu keterampilan praktis tetapi suatu kerangka pikiran yang di dalamnya terdapat penerimaan dan penghargaan pada keunikan setiap pribadi. Untuk mencapainya, diperlukan penciptaan suatu kondisi dimana pasien merasa aman, terjadi saling pemahaman dalam pendapat serta pikiran. Penerimaan pada pasien dapat dilakukan dengan mendengarkan keluh kesahnya secara penuh. Ini adalah karakteristik dari situasi pasien yang dating untuk meminta tolong, menjadi sadar bahwa perawat memahami perasaannya dan siap untuk membantunya.
2. Pemahaman yang empatik
Empati adalah merasakan perasaan orang lain, tetapi tidak sama dengan mengalami pengalaman itu sendiri. Dalam keperawatan, empati dapat berarti mempersepsikan dunia sebagaimana pasien mempersepsikannya. Empati bukanlah simpati untuk situasi atau dilemma seseorang tetapi sebuah kemampuan untuk merefleksikan sebuah objektif perasaan dari pasien, yang tidak diungkapkan secara lisan
3. Perhatian positif yang tak bersyarat
Perawat harus berfokus pada pemahaman mereka tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan pasien, bukan hanya pada persepsi dari dirinya sendiri atau dari orang lain. Memiliki perhatian positif yang tidak bersyarat terhadap pasien, termasuk di dalamnya mengakui suatu kebaikan pada diri pasien tersebut
4. Sifat konkrit
Konsep tentang sifat konkrit berhubungan dengan pengertian yang saling menguntungkan dan akurat tentang perbendaharaan kata yang digunakan oleh pasien, terutama dalam menggambarkan emosinya. Misal : Kata ‘sedih’ dan ‘senang’ bersifat subjektif. Perawat perlu memperjelas arti kata itu secara perseorangan dengan si pasien untuk dapat menangkap isi pembicaraan.
5. Kesegeraan
Sifat segera mengacu pada situasi yang sedang terjadi, bukan pada masa lalu atau masa datang. Misal : ketika pasien mengungkapkan perasaan tentang pemeriksaan terakhir, kita perlu menanggapinya tentang hasil pemeriksaan saat itu, bukan pada perasaannya sebelum pemeriksaan dilakukan.
6. Konfrontasi
Konfrontasi berarti perlawanan/pertentangan terhadap suatu hal. Terkadang orang membuat generalisasi tentang kejadian, orang, dan perasaan. Untuk membantu pasien, mungkin kita perlu meng-konfrontasi mereka, mengajak mereka untuk menemukan kebenaran. Misal : Kasus dimana lansia yang sakit dibawa ke RS, beliau berpendapat bahwa RS adalah tempat dimana orang meninggal dan bukan untuk membaik. Untuk meningkatkan motivasi pasien, perawat memberikan ke-optimisan pada pasien bahwa mereka akan sembuh. Hal itu melalui konfrontasi.

Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor yang dilakukan perawat kepada pasien :
Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya.
Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya
Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.
Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya
Doing artinya melakukan pengkajian dan intervensi keperawatan serta 
mendokumentasikannya
Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.
Accepting artinya perawat harus dapat me;nerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain


2.5 Active listening.
Menjadi pendengar yang baik merupakan keterampilan dasar dalam melakukan hubungan perawat-klien. Ellis Gates, and Konworthy menjelaskan bahwa mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang tersebut bahwa apa yang dikatakannya merupakanhal yang penting dan dia adalah orang yang berarti. Mendengarkan jugamenunjukkan pesan “Anda bernilai untuk saya” dan “Saya tertarik untuk mendengarkan anda” Selama mendengarkan secara aktif,perawat mengikuti apa yang dibicarakan klien dan memperhatikannya.  
Mendengarkan secara aktif ini terdiri dari empat tahap,membuka diri, mendefinisikan masalah, menentukan tujuan,dan mengevaluasi tujuan. Ada saat perawat berada dalam 
kondisi pseudolistening. Kondisi pseudolistening tersebut antara lain:
a.   Diam untuk mempersiapkan apa yang akan dikatakan pada pembicara selanjutnya.
b.   Mendengarkan orang lain agar didengarkan
c.   Mendengarkan hanya informasi tertentu saja
d.   Memperlihatkan seolah-olah tertarik padahal tidak 
e.   Mendengarkan hanya agar klien tidak merasa kecewa
f.   Mendengarkan agar tidak ditolak 
g.  Mendengarkan untuk mencari kelemahan lawan bicara supaya bisamempunyai respons yang kuat.



















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan.
Kehadiran fisik, menurut Evans mengidentifikasi 4 sikap dan cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu : 
·         Berhadapan
·         Mempertahankan kontak mata
·         Membungkuk ke arah klien
·         Tetap rileks
Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, simpati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal hubungan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi terbuka. Respon ini terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.
Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emosional katarsis, dan bermain peran (Stuart da Sundeen, 1987 : 131).
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar.
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan katakata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.
Active listening menjadi pendengar yang baik merupakan keterampilan dasar dalam melakukan hubungan perawat-klien. Ellis Gates, and Konworthy menjelaskan bahwa mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akan menunjukkan pada orang tersebut bahwa apa yang dikatakannya merupakanhal yang penting dan dia adalah orang yang berarti.


3.2  Saran
Kesadaran diri perawat merupaka dasar utama dalam membina hubungan terapeutik dengan klien. Sikap fisik dan psikologis yang diuraikan melalui nonverbal, dimensi respon dan dimensi tindakan perlu dipelajari dan dipakai dalam prkatek keperawatan. Kepuasan klien akan asuhan keperawatan banyak dipengaruhi oleh sikap perawat dalam berkomunikasi. Untuk kerena itu sebagai mahasiswa keperawatan dan tenaga medis kita harus memahami teori tentang penggunaan diri secara efektif.





















DAFTAR PUSTAKA

Hamid, A.Y.S (1996). Komunikasi Terapeutik. Jakarta: tidak dipublikasikan
Purwanto, Hery. 1994. Komunikasi Untuk Perawat. Jakarta: EGC
Suryani.(2005). Komunikasi Terapeutik; Teori dan Praktik. Jakarta: EGC
(Diakses tanggal 18 Mei 2014).


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . BEING AS NURSE - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger