Blog ini di buat untuk sekedar share ilmu khususnya ilmu keperawatan yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber. Mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam materi yang di posting di blog ini untuk itu mohon masukan dan kritikannya dan jangan lupa kalau copas disertakan yah url blognya sebagai referensi hehehe. (Semoga bermanfaat).

Sabtu, 25 Juli 2015

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA TINGKATAN USIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby dalam Intan, 2005). Maka di sini dapat diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. Dan komunikasi terapeutik merupakankomunikasi professional bagi perawat.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto,1994). Teknik komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain (Stuart & sundeen,1995).
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50).
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
·      Apa itu komunikasi teurapeutik?
·      Bagaimana komunikasi teurapeutik pada tiap-tiap usia?
·      Bagaimana komunikasi teurapeutik pada klien dengan gangguan pendengaran?
·      Bagaimana komunikasi teurapeutik pada klien dengan gangguan penglihatan?


C.      Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
·      Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan Dasar
·      Untuk memahami komunikasi teurapeutik
·      Untuk mengetahui komunikasi teurapeutik pada tiap-tiap usia
·      Untuk mengetahui komunikasi teurapeutik pada klien dengan gangguan pendengaran
·      Untuk mengetahui komunikasi teurapeutik pada klien dengan gangguan penglihatan






















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Bayi (0-12 bulan)
Perkembangan komunikasi dengan bayi dapat dimulai dengan kemampuan bayi untuk melihat sesuatu yang menarik, ketika bayi digerakkan maka bayi akan berespon untuk mengeluarkan suara-suara bayi. Perkembangan komunikasi pada bayi tersebut dapat dimulai pada usia minggu ke delapan dimana bayi sudah mampu untuk meliht objek atau cahaya, kemudian pada minggu ke dua belas sudah mulai melakukan tersenyum.
Pada usia ke enam belas sudah menolehkan kepala pada suara asing pada dirinya. Pada pertengahan tahun prtaa bayi sudah mulai mengucapkan kata-kata awal seperti baba, da-da, dan lain-lain. Pada bulan ke sepuluh bayi sudah bereaksi terhadap panggilan terhadap namanya, mampu melihat beberapa gambar yang terdapat pada buku.  Pada akhir tahun pertama bayi sudah mampu mengucapkan kata-kata yang spesifik antara dua atau tiga kata. Selain melakukan komunikasi seperti diatas terdapat cara komunikasi yang efektif pada bayi yakni dengan cara menggunakan komunikasi non verbal dengan teknik sentuhan seperti mengusap, menggendong, memangku, dan lain-lain. Mengungkapkan kebutuhan dengan tingkah laku dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitarnya, misal: menangis.
Respon bayi terhadap komunikasi ditunjukkan secara nonverbal,  misalnya tersenyum, menggerakkan badan, tangan dan kaki. Pada bayi yang berusia lebih 6 bulan kadang terjadi stranger anxiety (cemas pada orang asing)  saat berkomunikasi jangan langsung ingin menggendong atau memangkunya, tetap lakukan pendekatan lebih dahulu dengan mainan yang dipegangnya atau banyak menggunakan komunikasi non verbal untuk menyatakan kebutuhan (misalnya: tersenyum  puas atau menangis  sakit).


Komunikasi pada bayi :
·      Usahakan memenuhi kebutuhan bayi secepat mungkin.
·      Berbicaralah dengan suara yang lembut, sentuhan dan belaian, ciuman, mendekap, menggendong, atau dengan gerakan (seperti mengayun  memberi kenyamanan / senang
·      Rangsang taktil (sentuhan) sangat kuat maknanya bagi bayi unt  meningkatkan rasa aman, melindungi bayi dan kedekaterbicara dgn ibunya.
·      Berkomunikasilah dengan bermain (cilukba, mainan berbunyi) jika bayi menerima.
Tujuan Komunikasi Dengan Bayi :
·      Memberi rasa aman kepada bayi
·      Memenuhi kebutuhan bayi akan kasih sayang
·      Melatih bayi mengembangkan kemampuan bicara, mendengar, dan menerima rangsangan

B.       Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Toddler (1-3 tahun)
Anak berkomunikasi secara verbal maupun non verbal, anak bersifat egosentris dan hanya memahami hal-hal yang hnya berhubungan dengan dirinya.Perkembangan komunikasi pada usia ini dapat ditunjukkan dengan perkembangan bahas anak dengan kemapuan anak sudah mampu memahami kurang lebih sepuluh kata, pada tahun ke dua sudah mampu 200-300 kata dan masih terdengar kata-kata ulangan. Pada anak usia ini khususnya usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai sembilan ratus kata dan banyak kata-kata yang digunkan seperti mengapa, apa, kapan, dan sebagainya.
Pada usia ini cara berkomunikasi yang dapat dilakukan adalah dengan memberi tahu apa yang terjadi pada dirinya, memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan digunakan, menggunakan nada suara, bicara lambat, jika tidak dijawab harus diulang lebih jelas dengan pengarahan yang sederhana, hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata “jawab dong”, mengalihkan aktifitas saat komunikasi, memberi mainan saat komunikasi dengan anak sebaiknya mengatur jarak, adanya kesadaran diri dimana kita harus menghindarkan konfrontasi langsung, duduk yang terlalu dekat dan berhadapan. Secara non verbal kita selalu memberi dorongan penerimaan dan persetujuan jika diperlukan, jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak, bersalaman dengan anak merupakan cara untuk menghilangkan perasaan cemas, menggambar, menulis atau berceriita dalam menggali perasaan dan fikiran anak di saat melakukan komunikasi.
Komunikasi dengan anak usia toddler (1-3 tahun) :
·      Panggil anak sesuai yang digunakan anak tersebut  bagi dirinya.
·      Gunakan pesan yang pendek dan jelas, suara lembut
·      Pelajari dan gunakan kata-kata yang dipakai anak untuk ke kamar mandi, mandi, makan.
·      Perilaku protes yang dilakukan anak (seperti tantrum/mengamuk) dapat digunakan untuk mengatasi tekanan/stres pada anak.

C.      Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Pra Sekolah (3-5 tahun)
Anak tidak dapat memahami/membedakan fantasi dan kenyataan, anak juga hanya memahami kalimat yang pendek, sederhana, kata-kata yang dipahami penjelasan yang konkrit.
Pada masa ini anak mulai mandiri dan mengembangkan keterampilan dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain, anak yang lebih kecil belum fasih berbicara (ucapan dan perbendaharaan kata belum memadai sepenuhnya).  Anak masih egosentris  percakapan tentang dirinya, berpikir kongkrit: bicara apa adanya (jujur), bila perlu ijinkan untuk menyentuh, memegang, memeriksa barang yg akan  berhubungan dengan mereka.  Bahasa sederhana  belum lancar mengungkapkan perasaan / keinginan  komunikasi non verbal. Takut kesakitan karena ketidaktahuannya jelaskan apa yang akan dilakukan dan jelaskan bagaimana rasanya dengan penjelasan yang sederhana. Sebagian anak mengalami stranger anxiety  yang menjadi barier/penghambat dalam komunikasi.


Komunikasi pada anak usi pra ssekolah :
·      Posisi yang baik pada saat berbicara pada anak adalah: jongkok, duduk di kursi kecil, atau berlutut  pandangan mata sejajar dgn anak
·      Berikan pujian atas apa yang telah dicapainya
·      Orang tua atau perawat harus konsisten dalam berkomunikasi (verbal / nonverbal) sesuai situasi saat itu (misal tidak tertawa saat anak mengalami kesakitan karena tindakan tertentu)
Tujuan komunikasi pada masa prasekolah
·      Melatih keterampilan penggunaan pancaindra
·      Meningkatkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor
·      Sebagai bentuk pembelajaran dan permainan dalam melakukan hubungan dengan orang lain.
·      Mengembangkan konsep diri

D.      Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Sekolah (5-12 tahun)
Anak mencari alasan dan penjelasan atas segala sesuatu, namun tidak membutuhkan pengesahan. Anak juga memahami penjelasan sederhana dan mendemonstrasikan.
o  Berfikir fungsional  arah pertanyaan: mengapa, bagaimana, untuk apa sesuatu dilakukan.
o  diperlukan:
§  penjelasan yang sederhana disertai  alasan
§  berikan kesempatan untuk  bertanya
§  bila perlu beri kesempatan untuk mencoba melakukannya.
o  Gunakan beberapa kosa kata anak dalam penjelasan.
o  Buatlah gambar untuk mendemonstrasikan prosedur/anatomi
o  Hargai privasi anak. Mungkin ada topik pembicaraan yang tidak ingin didiskusikan.
o  Sangat memperhatikan keutuhan tubuh  takut terluka  perlu pendekatan shg anak dapat mengungkapkan perasaannya  kecemasannya turun.

o  Anak dengan kecemasan tinggi dapat dialihkan dgn:
·      Berbicara
·      menghadirkan orang dekat  kecemasan turun  dapat menerima pendapat orang lain.
o  Anak usia sekolnah yag lebih besar mampu berpikir kongkrit  dapat berkomunikasi lebih baik.

E.       Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Remaja (13-18 tahun)
Remaja berfikir lebih abstrak frustasi antara tingkah laku berfikir kanak-kanak dan dewasa karena pada masa ini adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa anak-anak menuju dewasa. Pola pikir dan tingkah laku merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa, bahasa dan kultur tersendiri  bahasa gaul ( istilah tertentu: nyokap, bokap ). Peer group/kelompok sebaya yang utama  lebih terbuka pada orang lain dapat orang tua/keluarga.
Komunikasi dengan remaja:
·      memberi perhatian
·      mendengarkan ungkapan remaja
·      menghargai dan terbuka terhadap pendapat yang disampaikan
·      hindari menghakimi / mengkritik dengan tajam
·      hargai keberadaan identitas diri dan harga dirinya
·      Tunjukkan ekspresi wajah yang bersahabat dengannya
·      Jangan memotong pembicaraan saat anak sedang mengekspresikan pikiran dan perasaannya
·      Hormati privasinya
·      Beri dukungan pada apa yang telah dicapainya secara positif dengan memberikan penguatan positif  (pujian ).
·      Komunikasi yang baik diperlukan:
·      Kepercayaan  sebagai dasar untuk berkomunikasi yang dibentuk dengan:
-     meluangkan waktu bersama
-     dorong agar berani mengungkapkan ide / pikiran / perasaan
-     hargai, hormati pendpt / pikirannya
-     toleransi terhadap perbedaan ide / pikiran
-     pujian untuk hal yang baik
-     hormati privasinaya
-     berikan contoh yang baik

F.       Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Dewasa
Dari segi psikologis, Orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu yaitu :
·      Komunikasi adalah sutu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih muktahir.
·      Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan dan pikiran.
·      Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan menerima,akan belajar banyak,karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
Komunikasi pada dewasa awal mengalami puncaknya pada kematangan fisik, mental dan kemampuan social mencapai optimal. Peran dan tanggung jawab serta tuntutan social telah membentuk orang dewasa. melakukan komunikasi dengan orang lain, baik pada setting professional ketika mereka bekerja atau pada saat mereka berada di lingkungan keluarga dan masyarakat umum.
Teknik komunikasi yang dikembangkan pada masa dewasa telah mencapai tahap optimal, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Kemampuan untuk mengembangkan komunikasi (sebagai media transfer informasi). Dalam menguasai pesan yang diterima, individu dewasa tidak hanya melihat isi pesan, tetapi juga mempersiapkan pesan tersebut dengan lebih baik serta menciptakan hubungan antar pesan yang di terima dengan konteks atau situasi pesan tersebut disampaikan. Pesan yang diterima individu dewasa kadang kala dipersepsikan bukan hanya dari konteks isi pesan, tetapi lebih kompleks lagi disesuaikan dengan situasi dan keadaan yang menyertai. Contoh: “sayang…” dari sepenggal kata tersebut ketika diungkapkan dengan nada datar, akan memberi kesan yang menyesalkan. Kesan ini semakin kuat bila penyampai pesan menunjukkan rasa penyesalan dari gerakan bibir, raur wajah, kepala menunduk. Namun, bila ungkapan tersebut diucapkan dengan menggunakan bahasa yang halus dan mendesah serta menyampaikan pesan dengan menunjukkan ekspresi mata bersinar, wajah cerah atau normal, persepsi individu dewasa tersebut adalah bahwa makna kata “sayang” tersebut adalah perasaan suka atau cinta.Kemampuan untuk menilai respon verbal dan nonverbal yang disampaikan lingkungan memberi keuntungan karena pesan yang kompleks dapat disampaikan secara sederhana. Namun, kadang kala kemampuan kompleks untuk menangkap pesan ini menimbulkan kerugian pada manusia karena kesalahan dalam menerima pesan menjadi lebih besar, akibat pengguna persepsi dan lingkungan yang lebih kompleks. Contoh : seseorang yang meludah didepan atau didekat orang seseorang kadang kala di persepsikan sebagai rasa tidak suka atau benci terhadap orang tersebut, atau orang yang meludah tersebut tidak bermaksud sebagaimana dipersepsikan orang lain. Situasi diatas selanjutnya menimbulkan konflik antar individu atau kelompok.
Agar komunikasi dengan klien dewasa efektif perlu memperhatikan terciptanya suasana komunikasi yang mendukung tercapainya tujuan komunikasi seperti saling menghormati, percaya dan terbuka.
a.       Suasana saling menghormati
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien dewasa, lawan komunikasi (perawat/tenaga kesehatan) harus dapat menghormati pendapat pribadinya. Klien dewasa akan merasa lebih senang apabila ia diperbolehkan untuk menyampaikan pemikiran atau pendapat, ide, dan sistem nilai yang dianutnya. Apabila hal-hal tersebut diabaikan akan menjadi kendala bagi keberlangsungan komunikasi.
b.      Suasana saling percaya
Komunikasi dengan klien dewasa perlu memperhatikan rasa saling percaya akan kebenaran informasi yang dikomunikasikan. Apabila hal ini dapat diwujudkan maka tujuan komunikasi akan lebih mudah tercapai.
c.       Suasana saling terbuka
Keterbukaan untuk menerima hasil komunikasi dua arah, antara perawat atau tenaga kesehatan dan klien dewasa akan memudahkan tercapainya tujuan komunikasi.
Klien dewasa yang menjalani perawatan di rumah sakit dapat merasa tidak berdaya, dan tidak aman ketika berada dihadapan pribadi-pribadi yang mengatur sikap dan perilakunya. Status kemandirian mereka berubah menjadi bergantung pada aturan dan ketetapan pihak lain. Hal ini dapat menjadi suasanya yang dirasanya sebagai ancaman. Akumulasi perasaan ini dapat terungkap dalam bentuk sikap emosional dan agresif.Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para professional,pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari imobilitas bio psikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap maslahnya.
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia kearah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunikasi yang tepat untuk setiap karakteristik klien.
·      Orang dewasa memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang menetap dalam dirinya yang sukar untuk dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang tepat agar tujuan dapat tercapai.
·      Model konsep komunikasi yang sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi king dan model komunikasi kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling member dan menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah imformasi yang disampaikan sesuai dengan yang ingin dicapai.

G.      Komunikasi Teurapeutik Pada Usia Lanjut
Kemampuan komunikasi pada lansia dapat mengalami penurunan akibat penurunan berbagai fungsi sistem organ (penglihatan, pendengaran, wicara dan persepsi), perubahan psikis/emosi, interaksi sosial dan spiritual  perlu pendekatan dan teknik khusus dalam berkomunikasi.  Perubahan emosi sering nampak berupa reaksi penolakan terhadap kondisi yang terjadi.
Gejala penolakan yang terjadi:
·      Tidak percaya terhadap diagnosa, gejala, perkembangan dan keterangan yang diberikan tenaga kesehatan
·      Mengubah keterangan yang diberikan sehingga diterima keliru
·      Menolak membicarakan perawatan di Rumah Sakit
·      Menolak ikut serta dalam perawatan dirinya, khususnya tindakan yang melibatkan dirinya
·      Menolak nasehat (istirahat baring, berganti posisi tidur  untuk kenyamanan dirinya)
Pendekatan dalam komunikasi dengan lansia
·      Pendekatan fisik  mencari informasi tentang kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian yang dialami, perubahan fisik / organ tubuh, tingkat kesehatan yg masih bisa dicapai dan dikembangkan.
·      Pendekatan psikologis  mengarah pd perubahan perilaku. Dalam pendekatan ini perawat berperan sebagai: konselor, advokat, suporter, interpreter, sahabat dekat klien
·      Pendekatan sosial  diskusi, tukar pikiran, berceritera, bermain, kegiatan kelompok  agar klien dapat berinteraksi dgn sesama klien / petugas
·      Pendekatan spiritual  memberikan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan; efektif bagi klien dengan latar belakang keagamaan yg baik.
 Teknik komunikasi pd lansia
·      Teknik asertif  sikap yang dapat menerima,  peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan sedang berbicara  komunikasi dapat dimengerti
·      Responsif  perawat segera bereaksi secara aktif ketika ada perubahan sikap / kebiasaan klien dengan menanyakan / klarifikasi tentang perubahan tersebut.
·      Klarifikasi  mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari 1 kali agar maksud pembicaraan dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh lansia / klien.
·      Sabar dan iklas  perawat bersikap sabar dan iklas menghadapi perubahan klien lansia sehingga tercipta komunikasi yang terapeutik.
Hambatan komunikasi pada lansia
Lansia bersikap:
1)      Agresif : ditandai dgn perilaku:
o    berusaha mengontrol & mendominasi lawan bicara
o    meremehka orang lain
o    mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
o    menonjolkan diri sendiri
o    mempermalukan orang lain di depan umum, baik dengan kata-kata atau tindakan.
2)      Nonasertif  : ditandai dengan tanda-tanda:
o   menarik diri bila diajak bicara
o   merasa tidak sebaik orang lain (rendah diri)
o   merasa tdk berdaya
o   tidak berani mengungkapkan keyakinannya
o   membiarkan orang lain membuat keputusan unt dirinya
o   pasif
o   mengikuti kehendak orang lain
o   mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dgn orang lain.
Mengatasi hambatan sehingga komunikasi efektif
·      Mulai komunikasi dengan mengecek pendengaran klien
·      Keraskan suara bila perlu
·      Dapatkan perhatian dari klien sebelum berbicara. Pandanglah klien sehingga klien dapat melihat gerakan mulut perawat
·      Atur lingkungan yang kondusif, kurangi gangguan visual dan auditory, pastikan pencahayaan cukup
·      Jika komunikasi macet, jangan anggap bahwa klien tidak kooperatif
·      Bertindaklah sebagai partner yang memfasiltasi klien untuk mengungkapkan perasaannya
·      Berbicara pelan dan jelas, kalimat pendek, bahasa sederhana
·      Bantu kata-kata dengan isyarat visual
·      Serasikan bahasa tubuh dengan pembicaraan/berita yang menggembirakan diiringi senyuman, tertawa secukupnya, dan sebagainnya.
·      Berilah kesempatan klien untuk bertanya
·      Jika klien salah, jangan menegur secara langsung
·      Jadilah pendengar yang baik
·      Arahkan suatu topik pada suatu saat
·      Ikutkan keluarga (yang menunggu) untuk berpartisipasi

H.      Komunikasi Teurapeutik Pada Pasien dengan Gangguan Pendengaran
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.
Berikut adalah teknik-teknik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan gangguan pendengaran:
·      Orientasiakan kehadiran anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di depan klien.
·      Gunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda.
·      Usahakan berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim.
·      Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu (permen karet).
·      Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan sederhana dan wajar.
·      Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan.
·      Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol).

I.         Komunikasi Teurapeutik Pada Pasien dengan Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ, misal; kornea, lensa mata, kekeruhan humor viterius, maupun kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar impuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi  antara lain dialami klien dengan kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus hingga dapat menyebabkan kebutaan, baik parsial maupun total. Akibat kerusakan visual, kemampuan menangkap rangsang ketika berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan.
Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat ditransfer melalui indra yang lain.
Teknik Komunikasi
Berikut adalah teknik-teknik yang diperhatikan selama berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan:
·      Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat ketika anda berada didekatnya.
·      Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama  (dan peran) anda.
·      Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak memungkinkanya menerima pesan verbal secara visual. Nada suara anda memegang peranan besar dan bermakna bagi klien.
·      Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata – kata sebelum melakukan sentuhan pada klien.
·      Informasikan kepada klien ketika anda akan meninggalkanya / memutus komunikasi
·      Orientasikan klien dengan suara – suara yang terdengar disekitarnya.
·      Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah ke lingkungan / ruangan yang baru.
     Dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan, perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien, untuk itu syarat yang harus dimiliki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan adalah :
·      Adanya kesiapan artinya pesan atau informasi, dan cara penyampaian harus dipersiapkan terlebih dahulu secara matang.
·      Kesungguhan artinya apapun wujud dari pesan atau informasi tersebut tetap harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
·      Ketulusan artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan kepada individu lain, pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yang disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan memang perlu serta berguna untuk si pasien.
·      Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka hal ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
·      Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejelek apapun yang akan disampaikan, perawat harus bersifat tenang, tidak emosi maupun memancing emosi pasien, karena dengan adanya ketenangan maka informasi akan lebih jelas baik dan lancar.
·      Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan kunci sukses dari kegiatan komunikasi, karena dengan keramahan yang tulus tanpa dibuat-buat akan menimbulkan perasaan tenang, senang dan aman bagi penerima.
·      Kesederhanaan artinya di dalam penyampaian informasi, sebaiknya dibuat sederhana baik bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya. Meskipun informasi itu panjang dan rumit akan tetapi kalau diberikan secara sederhana, berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan informasi dengan baik.
Agar komunikasi dengan orang dengan gangguan sensori penglihatan dapat berjalan lancar dan mencapai sasarannya, maka perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
·      Dalam berkomunikasi pertimbangkan isi dan nada suara.
·      Periksa lingkungan fisik.
·      Perlu adanya ide yang jelas sebelum berkomunikasi.
·      Komunikasikan pesan secara singkat.
·      Komunikasikan hal-hal yang berharga saja.
·      Dalam merencanakan komunikas, berkonsultasilah dengan pihak lain agar memperoleh dukungan.

























BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan ( As Hornby dalam Intan, 2005). Maka di sini dapat diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. Dan komunikasi terapeutik merupakankomunikasi professional bagi perawat.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).

B.       Saran
Keterampilann berkomunikasi yang baik dan benar serta efektif yang berdampak Terapeutik merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki oleh semua tenaga pelayanan kesehatan, terutama perawat. Kemampuan ini perlu ditumbuh kembangkan sehingga menjadi kebiasaan bagi perawat dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Maka dari itu, kegiatan komunikasi bagi perawat harus dilakukan dengan penuh kejujuran dan ketulusan disertai dengan komitmen yang kuat untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi klien.

1 komentar:

  1. bisakah untuk menambahkan daftar pustaka dalam makalah ini ? karena makalah ini sangat bagus bisa menambah pengetahuan. tapi masih kurang daftar pustakanya.

    BalasHapus

 
Copyright © . BEING AS NURSE - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger