Blog ini di buat untuk sekedar share ilmu khususnya ilmu keperawatan yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber. Mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam materi yang di posting di blog ini untuk itu mohon masukan dan kritikannya dan jangan lupa kalau copas disertakan yah url blognya sebagai referensi hehehe. (Semoga bermanfaat).

Selasa, 20 Januari 2015

KEANEKARAGAMAN BUDAYA DAN ASPEK SPIRITUAL

- 0 komentar


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
            Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara budaya, spiritual, keyakinan dan agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup  seseorang. Perawat memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena selama dalam perawatan, respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.
            Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.
  
1.2    Rumusan Masalah
Bagaimana keanekaragaman budaya dan aspek spiritual dalam proses keperawatan  itu?

1.3    Tujuan
Makalah ini di buat dengan  tujuan agar mahasiswa, tenaga kesehatan atau tenaga medis dapat memahami keanekaragaman budaya dan aspek spiritual dalam proses keperawatan.


1.4    Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan langsung dalam proses keperawatan hususnya tentang keanekaragaman budaya dan aspek spiritual dalam proses keperawatan.









BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Heritage consistency.
Penting bagi perawat untuk memahami bahwa klien mempunyai wawasan pandangan dan interprestasi mengenai penyakit dan kesehatan yang berbeda, berdasarkan keyakinan sosial-budaya dan agama klien sehingga terjalin hubungan baik. Hubungan ini akan meningkatkan pemberian asuhan keperawatan yang aman dan efektif secara budaya.
Karena terdapat rentang yang luas tentang keyakinan dan praktik kesehatan yang berlatar belakang etnik, budaya, sosial dan agama dari individu, keluarga atau komunitas. Klien dapat mengantisipasi saat mengalami suatu penyakit dengan pendekatan modern ataupun pendekatan tradisional, dapat juga menggunakan kedua pendekatan tersebut.
Hubungan dan komunikasi transkultular terjadi ketika setiap individu berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain melalui budayanya. Setelah mencapai kultular, perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor budaya klien sepanjang proses keperawatan.
Heritage Consistency adalah melihat akulturasi sebagai suatu kontinum. Dengan menggunakan teori ini, dikaji tingkat diamana masyarakat menjadi bagian dari kultur dominan dan tradisional.
-    Budaya, menggambarkan sifat non-fisik, seperti nilai, keyakinan, sikap atau adat istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
-    Etnisitas, rasa identitas diri yang berkaitan dengan kelompok sosial dan warisan budaya.
-    Religi, keyakinan dalam suatu kekuatan sifat ketuhanan atau diluar kekuatan manusia yang harus dipatuhi dan diibadatkan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta (Abramsom, 1980).

2.2 Fenomena budaya.
Teori Assessment Model dari Giger dan Davidhizar ini mendiskripsikan enam fenomena budaya yang harus diperhatikan dan dijadikan sebagai alat untuk melakukan pengkajian tentang nilai budaya yang dianut klien yaitu aspek komunikasi, ruang, variasi biologi, pengendalian lingkungan, waktu dan organisasi sosial.
1.      Komunikasi
(Bahasa yang digunakan, kualitas suara, pengucapan, bahasa diam/isyarat, dan komunikasi non verbal)
Analisa:
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan atau langsung ataupun tidak langsung atau melalui media (Effendy, 1960). Jadi jika hal ini tidak berjalan semestinya biasanya akan terjadi miskomunikasi, hal ini yang sering menjadi masalah dipelayanan kesehatan terutama di rumah sakit karena klien tidak berasal dari budaya yang sama dengan petugas kesehatanan atau perawat sehingga perselisihan dapat timbul dari berbagai situasi.
Contoh ketika pasien dan perawat tidak berbicara dengan bahasa yang sama atau tidak saling mengenal bahasa yang digunakan. Apa yang harus kita lakukan?.
Komunikasi yang jelas dan efektif merupakan aspek penting ketika berhubungan dengan pasien, terutama jika perbedaan bahasa menciptakan rintangan budaya antara perawat dengan pasien. Ketidakberhasilan untuk berkomunikasi secara efektif dengan pasien akan menyebabkan penundaan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, penentuan diagnosis dan tindakan keperawatan. Perbedaan bahasa ini dapat diatasi dengan cara perawat meminta anggota keluarga menginterpretasikan apa yang dikomunikasikan atau juga bisa meminta teman atau orang memahami bahasa yang digunakan pasein, halini  sesuai dengan definisi yang dikemukan oleh Effendy, 1960 bahwa komunikasi dapat juga disampaikan melalui komunikasi secara tidak langsung atau menggunakan media.
Keluarga dapat juga memberikan informasi tentang latar belakang pasien yang sangat bermanfaat dalam perawatan secara holistik. Selain itu menurut saya hal yang juga penting dalam komuniaksi antara perawat dan klien adalah kemampuan untuk mendengarkan karena untuk mendapatkan data yang spesifik pada saat pengkajian selain kita menggali data dengan bertanya kepada klien kita juga harus mampu mendengarkan apa yang disampikan oleh klien terutama yang terkait dengan masalah kesehatannya. 
Begitu juga dengan bahasa tubuh atau bahasa non verbal hal ini juga harus dipahami oleh kita sebagai perawat misalnya kita harus berhadapan, kontak mata atau melakukan sentuhan yang apabilah hal ini kita lakukan akan berpengaruh terhadap keberhasilan asuhan keperawatan yang kita berikan. Begitu juga dengan kebiasan komunikasi klien dengan latar belakang budaya sosialnya seperti kulitas suara dan pengucapan  (seperti orang-orang sumatera intonasi suara lebih keras jika dibandingkan dengan orang-orang dari pulau jawa) maka disinilah letaknya bahwa perawat sebaiknya mengetahui norma dan budaya dalam berkominkasi akan memfasilitasi pemahaman dan mengurangi miskomunikasi antara perawat dan klien. 
2.      Ruang
(Observasi derajat kenyamanan, kedekatan dengan orang lain, gerakan tubuh, persepsi terhadap ruang).
Analisa:
Menurut saya kita selaku perawat memang harus tetap memberikan space atau ruang khusus kepada klien yang mencakup perilaku individu dan sikap yang ditunjukan pada ruang di sekitar mereka. Hanya saja akan sedikit mengalami kendala ketika klien dirawat diruang bangsal dimana dalam satu ruangan bangsal terdiri dari beberapa pasien dan kelurga yang menadampingi, dalam kondisi seperti ini kita selaku perawat akan sedikit sulit untuk memberikan ruang gerak atau space khusus untuk klien dan keluarga atau orang yang terdekat dengan klien karena kondisi ruangan tempat perawatan. Walaupun dengan kondisi tersebut space ini tetap menjadi hak bagi pasien, makan kita tetap memberikan space (teritorial klien) untuk mempertahankan kondisi yang nyaman bagi klien tetapi harus memperhatikan batasan sesuai dengan ketentuan atau standart dimana klien dirawat.
Teritorialitas adalah suatu sikap yang ditujukan pada suatu area seseorang yang diklaim dan dipertahankan atau bereaski secara emosional ketika orang lain memasuki area tersebut. Perawat harus mencoba untuk menghargai territorial pasien, terutama ketika melakukan tindakan keperawatan. Perawat juga harus menyambut anggota keluarga pasien yang mengunjungi pasien. Hal ini akan tetap mengingatkan pasien seperti di rumahnya sendiri, menurunkan efek isolasi dan syok akibat pelayanan atau tindakan keperawatan di rumah sakit.

3.      Variasi biologi
(Struktur tubuh yang terkait adalah warna kulit, tekstur rambut, dan karakteristik fisik lainnya, variasi enzimatik dan genetik, pola elektrokardiografi, kerentanan terhadap penyakit; preferensi gizi dan kekurangan, dan karakteristik psikologis, mekanisme koping dan dukungan sosial)

Analisa:
Melakukan penilaian fisik seperti struktur dan bentuk tubuh, warna kulit, perubahan warna kulit yang tidak biasa, warna dan distribusi rambut, berat badan, tinggi badan, variasi enzimatik dan genetik. Hal ini akan membantu kita mengidentifikasi beberapa ciri dimana seseorang dari satu kelompok budaya berbeda secara biologis.
Selama ini ditempat pelayanan kita baik dirumah sakit atau pelayanan lainya variasi biologi yang disebutkan diatas semuanya sudah dilakukan pengkajian kepada klien, hanya saja belum dikaitkan secara mendalam dengan latar belakang budaya yang klien miliki. Jadi menurut saya kedepannya kita memang harus mengkaji lebih dalam bahwa tampilan fisik atau variasi biologi klien baik dalam kondisi sehat dan terutama pada kondisi yang kurang sehat ada kaitanya dengan pola kebiasaan, nilai dan kebudayaan mereka.
Contoh Salah satu kebudyaan masyarakat yang lebih menyukai makanan yang tidak dimasak terlebih dahulu untuk dikonsumsi, maka menurut saya hal ini akan membeikan tampilan fisik atau masalah kesehatan yang khusus terkait dengan fisiknya karena pengaruh dari kebiasaan atau budaya masyarakatnaya tersebut. Begitu juga apakah ada perbedaan enzimatik atau hasil pemeriksaan EKG antara orang kulit hitam dengan orang yang berkulit putih dan variasi biologi yang lainnya dapat kita kaji dengan kaiatannya atau pengaruhnya terhadap kesehatan seseorang.

4.      Pengendalian lingkungan
(Praktek budaya kesehatan, definisi kesehatan dan penyakit, Orientasi nilai; percaya pada sihir, doa untuk perubahan kesehatan)

Analisa:
Kontrol lingkungan (environmental control), mengacu pada kemampuan anggota kelompok budaya tertentu untuk merencanakan aktivitas yang mengontrol sifat dan faktor lingkungan langsung. Termasuk di dalamnya adalah sistem keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit, praktek pengobatan tradisional, dan penggunaan penyembuhan tradisional.
Dalam hal control lingkungan ini di Indonesia dengan latar belakang budaya masyarakat yang beraneka ragam masih banyak sekali masayarakat dengan keyakinan budayanya untuk mengatasi masalah kesehatannya. Selaku perawat kita juga harus memahami apakah keyakinan yang dianut klien untuk mengatasi masalah kesehatan sesuai untuk mendukung proses penyembuhan atau mengarah kepada peningkatan kondisi kesehatan yang lebih baik atau tidak. Selagi hal tersebut sejalan dengan tujuan kesembuhan atau perawatan pasien  dan dapat diterima oleh logika kesehatan menurut saya kontrol lingkungan seperti itu tetap dapat dijalankan. Kecuali jika bertentangan dengan upaya kesembuhan dan peningkatan kondisi kesehatan klien.
Hal ini seseuai dengan teori of culture care yang dikemukan oleh Madeleine Leininger bahwa budaya yang dibawa klien atau pasien tersebut harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ataupun tindakan keperawatan sehingga dapat mengkategorikan pada 3 hal pokok ini apakah budaya tersebut seseuai, bertentangan atau ada yang berpengaruh secara positif ada juga hal yang negatifnya. Berikut 3 hal pokok tersebut :
-          Culture care preservation and/or maintenance
-          Culture care accommodation and/or Negotiation
-          Culture care restructuring and/or repatterning

5.      Waktu
(Penggunaan waktu, durasi waktu, mendefinisikan waktu, waktu bersosial, orientasi watu kedepan, saat ini atau masa lalu)

Analisa:
Konsep berlalunya waktu, durasi waktu, dan definisi dalam waktu. Negara-negara seperti Inggris dan Cina tampaknya berorintasi masa lalu. Mereka menghargai tradisi, melakukan hal-hal yang selalu dilakukan. Individu dari negara-negara ini mungkin enggan untuk mencoba prosedur baru begitu juga dengan upaya untuk  kesehatan.
Orang-orang dari budaya yang berorientasi saat ini, cendrung berfokus pada disini dan sekarang. Mereka mungkin relatif tidak peduli dengan masa depan, mereka akan menghadapinya ketika masa itu datang. Amerika latin, penduduk asli Amerika, dan Timur Tengah yang berorientasi budaya masa depan dan dapat mengabaikan langkah-langkah preventif perawatan kesehatan.
Waktu atau orientasi waktu beragam di antara kelompok budaya yang berbeda, dan perawat mempunyai satu sikap yang ditujukan saat menemukan kesulitan untuk memahami dan merencanakan asuhan pada pasien dengan orientasi waktu yang berbeda. Misalnya perawat harus memperhatikan jam berapa klien seharusnya sholat sesuai dengan budaya atau keyakinan agamanya, jam berapa klien harus makan? ini juga harus diperhatikan jika saja dengan budayanya klien harus makan pagi jam 7, siang jam 12 dan malam jam 20 sementara dilapangan jadwal makan diatur pada waktu yang sama, padahal belum tentu jam makan klien dengan budaya dan asal berbeda sesuai dengan yang dijadwalkan tersebut. Maka inilah letaknya praktik keperawatan peka budaya hal-hal yang seperti ini harus diperhatikan sehingga pelayanan yang kita berikan didukung juga oleh kebiasaan atau culture klien.

6.      Organisasi sosial
(Budaya, ras, etnik, peran dan fungsi keluarga, pekerjaan, waktu luang, teman dan penggunaan tempat ibadah seperti masjid, gereja dll)

Analisa:
Pola prilaku budaya belajar melalui enkulturasi, proses sosial melalui mana manusia sebagai makhluk yang berpikir, punya kemampuan refleksi dan inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan dan kebudayaan sekelompok manusia lain. Mengakui dan menerima bahwa individu-individu dari latar belakang budaya yang berbeda-beda mungkin menginginkan berbagai tingkat akulturasi ke dalam budaya yang dominan. Faktor-faktor siklus harus diperhatikan dalam interaksi dengan individu dan keluarga (misalnya nilai tinggi ditempatkan pada keputusan orang tertua, peran orang tua – ayah atau ibu dalam keluarga).
Budaya tidak hanya ditentukan oleh etnistitas tetapi oleh faktor seperti geografi, usia, agama, jenis kelamin, orientasi, seksual dan status ekonomi. Memahami faktor usia dan siklus hidup harus diperhatikan dalam interaksi dengan semua individu dan keluarga.
Organisasi sosial atau social organizations, lingkungan sosial di mana seseorang dibesarkan dan bertempat tinggal merupakan peran penting dalam perkembangan dan identitas budaya mereka. Sebagai contoh ketika klien berada dipelayanan kesehatan seperti dirumah sakit mereka masih tetap perlu berkaitan dengan sosial organization misalnya tetap ingin menjalankan ibadah sholat secara berjamaah baik dengan keluarga atau dengan orang lain. Maka dalam hal ini rumah sakit yang jika memang peka terhadap budaya klien harus memfasilitasi. Begitu juga dengan budaya dari agama yang lainnya atau kegitan organisasi sosial lainnya.



2.3 Keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit.
       Ketika keyakinan dan praktik kesehatan dibicarakan karena hal ini berkaitan dengan klutur, etnisitas, dan agama, maka kata dapat harus digunakan untuk mencegah stereotip. Rentang definisi sehat dan sakit, keyakinan, dan prakiknya adalah infinitive, dan terdapat perbedaan didalam dan diantara kelompok. Namun demikian, terdapat perbedaan umum yang jelas. Perawat harus mengingat bahwa penting halnya untuk selalu secara konstan mengkaji dan berkomunikasi dengan klien untuk mengklarifikasi keyakinan mereka tentang kesehatan dan penyakit.

A. Keyakinan Tradisional
       Keyakinan rakyat yang didasari oleh kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan penyakit bagi orang yang mempunyai system keyakinan tradisional.Pencegahan dan pengobatan suatu penyakit tergantung pada pemahaman tentang penyebabnya. Keyhakinan kesehatan tradisional tentang penyebab dari suatu penyakit dapat sangat berbeda dengan model epidemiologi orang barat. Itulah sebabya, penting artinya untuk memahami epidemiologi tradisioanal, atau penyebab penyakit didalam system keyakinan.

B. Praktik Tradisional
                  Banyak praktik tradisional digunakan untuk mencegah dan mengatasi penyakit; praktik ini termasuk penggunaan benda, bahan, dan praktik keagamaan, yang juga dikenal sebagai folk-medicine(pengobatan rakyat). Tepatnya, pengobatan rakyat yang berhubungan dengan tipe praktik pengobatan lain dimasyarakat. Salah satu contoh dari hal ini adalah adanya popularitas tentang pengobatan alternative dan penggunaan ramuan homeopatik. Pengobatan rakyat terus ada, sejalan dengan tekanan yang terus meningkat dari pengobatan modern dan yang telah diturunkan dari sekolah kedokteran dari generasi sebelumnya. Praktik rakyat pada masa lalu hanya memilki bagian yang telah diabaikan oleh sistem keyakianan perawatan kesehatan modern. Berikut ini adalah keragaman dari pengobatan rakyat tradisional (Yoder, 199972).
1.      Pengobatan rakyat alamiah adalah salah satu dari masyarakat yang pertama menggunakan lingkungan alamiah dan menggunakan herbal, dan subtansi hewan untuk mencegah dan mengatai penyakit.
2.      Pengobatan rakyat magisoreligius menggunakan kata-kata yang ramah, suci, dan tindakan suci untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit.

C. Pengobatan Rakyat Alamiah
            Pengobatan rakyat alamiah banyak dilakukan di Amerika Serikat dan di Negara lain. Umumnya, bentuk pencegahan dan pengobatan ini ditemukan pada ramuan tradisional dan obat-obat rumah tangga. Ramuan ini telah diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dan banyak hingga sekarang masih digunakan. Banyak dari ramuan ini adalah herbal, dan adat serta ritual yang berkaitan dengan penggunaan herbal ini beragam di antara kelompok etnik. Aspek umum dari penggunaan herbal adalah pengetahuan bahwa segala yang terdapat di alam dapat di gunakan sebagai sumber terapi. Cara dimana obat-obatan ini dikumpulkan dan penggunaan spesifik dapat beragam sesuai dengan kelompok dan agama. Secara umum, trdadisi pengobatan rakyat menggambarkan tahun dimana herbal tersebut dipetik; cara herbal tersebut dikeringkan disiapkan; dan metoda, jumlah, dan frekuensi penggunaan.
Berikut ini adalah beberapa contoh dari pengobatan rakyat tradisional:
     Seorang yang asal budayanya dari Jamaika mungkin menggunakan tehcerasee untuk menjaga “sistem” tetap bersih.
     Seseorang yang asal budayanya dari Italia mungkin menggunakan bawang putih untuk mencegah mata setan.
     Seseorang yang asal budayanya dari Jerman mungkin menggunakan kentang untuk mengatasi kutil.
     Seseorang yang asal budayanya dari Yunani mungkin menggunakan thechamomileuntuk engatasi gangguan lambung.
     Seseorang yang asal budayanya dari Cina mungkin menggunakan teh dari beras yang dibakar untuk mengatasi diare.

D. Pengobatan Rakyat Magisoreligius
            Pengobatan rakyat magireligius, juga, telah ada sejak manusia mencari penyembuhan dari penyakit mereka. Tipe pengobatan ini sekarang disebut oleh sebagian orang sebagai”superstition”, namun bagi penganutnya, jenis pengobatan ini merupakan praktik keagamaan yang berkaitan dengan penyembuhan. Salah satu contoh dari pengobatan ini adalah bentuk penyembuhan keagamaan tidak resmi yang dikenal sebagai powwowing, charming, atau conjuring. Dalam praktik ini, lues jimat, air suci, seperti air dari Lourdes, manipulasi fisik digunakan dalam upaya menyembuhkan penyakit.

E. Penggunaan Makanan
            Makanan dicerna dalam cara atau jumlah tertentu. Praktik ini menggunakan diet dan terdiri atas banyak ibadat yang berbeda. Banyak orang percaya bahwa sistem tubuh terjaga keseimbangan atau dalam harmoni dengan memakan dengan tipe makanan tertentu, sehingga terdapat banyak makanan dan kombinasi makanananggap tabu. Sebagai contoh, dipercaya bahwa beberapa bahan makanan dapat dimakan untuk mencegah penyakit. Orang dari banyak latar belakang etnik memakan bawang putih atau bawang mentah, memakannya ditubuh mereka, atau mengantungnya dirumah untuk tujuan ini. Peran halal yang dipraktikan diantara oaring Yahudi melarang daging babi dan kerang untuk dimakan. Mereka memperbolehkan makan ikan yang bertulang dan bersirip dan hanya potongan tertentu daging dari hewan dengan jari berlebah yang memamah biak(lembu dan domba). Orang Yahudi juga percaya susu dan daging tidak boleh diletakkan pada tempat yang sama atau dimakan pada makan. Muslim juga mematuhi banyak praktik diet, seperti diet halal. Misalnya, muslim tidak makan daging babi. Penyuluhan keagamaan dapat menyebabkan klien tidak menerima produk perawatan kesehatan, seperti insulin yang dibuat dari penkreasbabi untuk mengobati diabetes.

F. Ramuan Tradisional
            Penggunaan obat-obat tradisional atau obat rakyat sekarang ini terus menigkat, dan praktiknya tampak diantaraorang-orang dari semua latar belakang etnik dan kultur. Ketika seseorang menggunakan obat-obatanyang berasal dari warisan budaya etnokultural mereka., maka penggunaan obat-obatan ini disebut sebagai “ perawatan kesehatan tradisional”. Ketika sesorang menggunakan obat-obatan bukan dari tradisi etnokultural mereka, maka penggunaan obat ini disebut sebagai “pengobatan alternative”. Penggunaan obat-obatan rakyat bukan praktik baru diantara masyarakatheritage consisten, sudah banyak digunakan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berkutnya. Sifat famasitisdari vegetasi-tumbuhan, akar-akaran, batang, bunga, biji,dan herbal-telah banyak diteliti, dicoba, dibuat catalog, dan digunakan untuk banyak Negara. Banyak dari tumbuhan ini digunakan oleh komunitas tertentu. Tumbuhan yang lain menembus garis etnik dan komunitas dan digunakan pada area geografis tertentu. Ramuan ini dibeli ditoko khusus atau dipasar tertentu yang ada dikomunitas etnokultural di Amerika Serikat dan mungkin juga dijual dinegara asalnya.
Perawat harus menentukan apakah klien menggunakan ramuan tradisional atau alternative. Hal ini penting jika klien tidak meminum obat-obatan yang diresepkan. Sering kali, kandungan aktif dari ramuan tradisional tidak diketahui. Jika klien menggunakannya, perawat harus mengetahui ramuan tersebut dan kandungan aktifnya. Seringkali kandungan ini menjadi antagonis atau sinergik dengan obat-obatan yang diresepkan dokter. Jika demikian keadaannya, maka obat-obatan yang diresepkan dokter tidak mempunyai efek, atau dapat terjadi takar lajak yang berat. Pembahasan tentang farmakopoeia ini tidak dibahas luas dalam bab ini; sehingga hanya sampel ramuan tertentu dari setiap populasi yang akan dibahas lebih jauh.

G. Penyembuh (Dukun)
            Dalam konteks tradisional, penyembuhan adalah pemulihan seseorang ke dalam keadaan harmoni  antara tubuh, pikiran, dan jiwa, atau pemulihan kesehatan holistic.Dalam komunitas tertentu, orang tertentu dikenal mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Dukun dianggap mendapat anugerah penyembuhan dari tuhan.
            Pada banyak contoh seseorang dengan warisan budaya konsisten dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan seorang dukun sebelum ia berhubungan dengan pemberi kesehatan modern. Terdapat banyak perbedaan antara dokter barat dengan dukun tradisional(Kaptchuk & Croucher, 1987) (Tabel 21-3). Hubungan seseorang dengan dukun, misalnya, sering lebih dekat dibanding hubungan antara orang tersebut dengan tenaga kesehatan perawatan professional. Orang menganggap dukun sebagai seorang yang memahami masalah dalam konteks cultural, berbicara dengan bahasa yang sama, dan mempunyai pandangan yang sama tentang dunia.
Contoh dari dukun tradisional adalah sebagai berikut:
1.      Medicine man: dukun tradisional dari suku Indian Amerika.
2.      Senora: wanita asal Puerto Rico yang memp[unyai pengetahuan dalam mengobati penyakit.
3.      Espiritista: seseorang yang memiliki keterampilan yang lebih canggih dibandingkan senora.
4.      Curandero: seseorang yang mempunyai warisan budaya Meksiko dengan kemampuan yang dianugerahkan oleh tuhan untuk menyembuhkan dengan menggunakan pendekatan religious-psikiatrik.
5.      Partera: dukun beranak berkebangsaan Meksiko-Amerka.
6.      Root-worker: orang kulit hitam yang berasal dari Afrika yang mampu menentukan penyebab dan pengobatannya.
7.      Dokter Cina: dokter yang sering dididik baik dalam lingkungan kedokteran herbal Cina trdadisional maupun kedokteran modern.

            Dukun tradisional telah selalu menjadi bagian dari kultur. Metoda yang digunakan oleh dukun-dukun ini telah dikembangkan sepanjang generasi dengan coba-salah(terial and error) dan sering didasarkan pada keyakinan keagamaan dan situasi sosial. Metoda yang aktif telah dilestarikan dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Dukun tradisional menyadari tentang cultural dan kebutuhan pribadi klien dan mampu memahami masalah masa kini.

2.4 Aspek budaya tentang kesehatan dan penyakit.
A. Budaya
            Budaya menggambarkan sifat non-fisik,seperti nilai, keyakinan, sikap, atau adat-istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kultur adalah juga merupakan kumpulan dari keyakinan, praktik, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, normal, adat-istiadat, ritual yang dipelajari dari keluarga selama sosialisasi bertahun-tahun. Banyak keyakinan, pikiran, dan tindakan masyarakat, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, ditentukan oleh latar belakang budaya(Spector,1991). Akhirnya, kultur adalah “system metakomunikasi” yang di dalam nya tidak hanya bahasa lisan mempunyai makna, tetapi juga segala sesuatu yang lain (matsubmoto,1988)

B.  Etnisitas
            Etnisitas  adalah rasa identitas diri  yang  berkaitan dengan kelompok kultur social umum dan warisan budaya. Etnisitas adalah kompleks, sukar dipahami, dan tidak selalu di definisikan dengan jelas.

C. Religi
            Religi adalah keyakinan dalam sesuatu kekuatan sifat ketuhanan atau di luar kekuatan manusia yang harus di patuhi yang di ibadatkan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta(Abramson,1980). Nilai etika dan keyakinan serta praktik keagamaan berfungsi untuk lebih jauh mengklarifikasi etnisitas

D. Kontrol lingkungan
            Kontrol lingkungan mengacu pada kemampuan dari anggota kelompok kultural tertentu untuk merencanakan aktivitas yang mengontrol sifat dan factor lingkungan langsung(Giger&Davidhijar,1995). Termasuk di dalam nya adalah system keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit, praktik pengobatan tradisional, dan penggunaan penyembuh tradisional fenomena kultural tertentu ini memainkan peran yang sangat penting dalam cara klien berespons terhadap pengalaman yang berkaitan dengan kesehatan, termaksuk cara di mana mereka mendefinisikan kesehatan dan penyakit dan mencari serta menggunakan sumber kesehatan dan asuhan keperawatan serta dukungan social.

E. Oganisasi sosial
            Lingkungan social dimana seseorang dibesarkan dan bertempat tinggal memainkan peran penting dalam perkembangan dan identitas cultural mereka. Anak-anak belajar tentang respon terhadap peristiwa kehidupan dari keluarga mereka dan dari kelompok etnoreligi. Proses sosialisasi ini adalah suatu bagian warisan yang diturunkan cultural, agama, dan latar belakang etnik. Organisasi social mengacu pada unit keluarga(keluarga kecil, orang tua tuggal, atau keluarga besar) dan organisasi kelompok social (keagamaan atau etnik)yang dapat diidentifikasi oleh klien atau keluarga.

F.  Hambatan social pada perawatan  kesehatan
            Beberapa rintangan social, seperti pengangguran, kekurangan pekerjaan, tunawisma, tidak memuiliki asuransi kesehatan, dan kemiskinan menghambat sesorang untuk memasuki  system perawatan kesehatan. Kemiskinan sejauh ini merupakan factor yang paling kritis. Kemiskinan adalah istilah relatif dan selalu berubah sesuai waktu dan tempat. Kesehatan  yang buruk, penyakit yang melumpuhkan kehidupan, penyalahgunaan obat dan alcohol, dan tingkat pendidikan yang minim adalah penyebab social yang menyebabkan kemiskinan. Sudah banyak yang dipelajari tentang melawan kemiskinan sejak tahun 1964, tetapi sekarang timbul semboyan baru”perang melawan kemiskinan” dimana orang miskin dilihat sebagai penyebab kemiskinan dan sebagai korban kemiskinan( shoor, 1995).


G. Komunikasi
            Perbedaan komunikasi di bedakan dalam berbagi cara, termasuk perbedaan bahasa, perilaku verbal dan non verbal, dan diam. Perbedaan bahasa kemungkinan merupakan factor terpenting dalam memberikan asuhan keperawatan tranfultural karena perbadaan ini memberi dampak pada semua tahap  proses keperawatan. Komunikasi yang jelas dan efektif adalah aspek penting ketika berhubungan dengan klien terutama jika perbedaan bahasa menciptakan rintangan cultural antara perawat dan  klien.  Jika klien tidak berbicara dengan bahasa perawat, maka diperlukan pengalih bahasa. Namun demikian sering terjadi dimana klien dapat berbicara dengan bahasa perawat dengan kemampuan berbatas atau mengunakan  bahasa dengan normal denotative atau konotatif yang berbeda dengan makna yang dimilki dengan perawat.
            Beberapa perawat cenderung untuk menghindari klien dengan siapa mereka tidak dapat  berkomunikasi. Hal ini menciptakan lingkaran erat kesalahpahaman cultural. Menurut Muecke (1970), perawat dapat berperilaku terhadap klien dengan cara berikut yang dapat disalahgunakan:
1. Perawat meneriakkan kata-kata yang sama lebih keras. Dengan mengeraskan suara, tidak akan membuat kata-kata tersebut dapat dipahami, dan tindakan seperti ini dapat juga menunjukkan permusuhan dengan klien.
2. Perawat berfokus pada tugas ketimbang pada klien.  Hal ini menunjukkan bahwa perawat lebih tertarik pada tugasnya ketimbang pada klien,
3. Perawat berhenti berbicara dengan klien dan mulai melakukan sesuatu bagi klien ketimbang bersama klien, sikap ini menyikapkan secara tidak langsung tentang inverioritas klien.

2.5 Faktor kultural dan proses keperawatan.
            Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskanasuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahariterbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar 1. Geisser (1991)menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagailandasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew andBoyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahappengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


1. Pengkajian.
            Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors).
            Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors).
            Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors).
            Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.

d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways).
            Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.


e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors).
            Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

f. Faktor ekonomi (economical factors).
            Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.

g. Faktor pendidikan (educational factors).
            Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

2. Diagnosa keperawatan
            Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosakeperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transcultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural danketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.


3. Perencanaan dan Pelaksanaan.
            Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.

a. Cultural care preservation/maintenance.
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang
proses melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat

b. Cultural careaccomodation/negotiation.
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik

c. Cultual care repartening/reconstruction.
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan

            Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

Evaluasi
            Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan denganbudaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

2.6 Spiritualitas dan religi.
Spiritualitas adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan seseorang dengan kekuatan hidup nonmateri atau kekuatan yang lebih tinggi.
2 model hubungan fisik-psikologi-sosial-spiritual :
1.spiritual bagian dari tubuh manusia.
2.spiritual melingkupi semuanya.
kebutuhan spiritual :
1. Kebutuhan untuk makna dan tujuan.
2. Kebutuhan untuk kasih sayang dan keterhubungan.
3. Kebutuhan untuk pengampunaan.
Perawat dapat membantu pasien untuk menemukan kebutuhan spiritual dengan cara :
a. Memberi Perhatian .
b. Membantu Pasien  di dalam perjuangannya dalam menghadapi sakit dan kematian.
c. Memupuk hubungan dengan jiwa.
d. Memfasilitasi ekspresi pasien terkait dengan agama / spiritual.
Konsep konsep yang terkait dengan Spiritulitas :
1. Spiritualitas
2. Faith (Iman)
3. Religion (Agama)
Hope (Harapan) : sebuah isi dari kehidupan yang bertanggung jawab atas pandangan positif pada saat-saat paling suram bahkan kehidupan.
Love : untuk mencintai orang lain adalah wajah Allah.
Spiritual Contentment adalah Kebahagiaan Spiritual.
Spiritual, Kesehatan dan Penyakit :
1. Petunjuk Kehidupan harian kita
2. Sumber dari Dukungan.
3. Sumber dari kekuatan dan penyembuhan.
4. Sumber dari konflik.
Faktor yang mempengaruhi Spiritualitas :
1. Pertimbangan perkembangan
2. Keluarga
3. Latar Belakang Etnis
4. Formal Agama
5. Peristiwa Kehidupan

2.7 Proses keperawatan dan spiritualitas.
Proses keperawatan dan spiritualitas meliputi :
1. PENGKAJIAN
            Pengkajian dapat menunjukan kesempatan yang dimiliki perawat dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas klien. Pengkajian tersebut dapat menjadi terapeutik karena pengkajian menunjukkan tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan. Perawat yang memahami pendekatan konseptual menyeluruh tentang pengkajian spiritual akan menjadi yang paling berhasil (Farran , 1989 cit Potter and perry, 1997).
            Ketepatan waktu pengkajian merupakan hal penting yaitu dilakukan setelah pengkajian aspek psikososial pasien. Pengkajian aspek spiritual memerlukan hubungan interpersonal yang baik dengan pasien. Oleh karena itu pengkajian sebaiknya dilakukan setelah perawat dapat membentuk hubungan yang baik dengan pasien atau dengan orang terdekat pasien, atau perawat telah merasa nyaman untuk membicarakannya.
Craven dan Hirnle (1996), Blais dan Wilkinson (1995) serta Tayler, Lillis dan Le Mane (1997), pada dasarnya informasi awal yang perlu digali secara umum adalah :
a.   Afiliasi agama
1)   Partisipasi agama klien dalam kegiatan keagamaan
2)   Jenis partisipasi dalam kegiatan keagamaan
b.   Keyakinan / spiritual agama
1)   Praktik kesehatan : diet, mencari dan menerima terapi / upacara keagamaan
2)   Persepsi penyakit : hukuman, cobaan terhadap keyakinan
3)   Strategi koping
Pengkajian data subyektif meliputi :
a.   Konsep tentang Tuhan atau ketuhanan
b.   Sumber harapan dan kekuatan
c.    Praktik agama dan ritual
d.   Hubungan antara keyakinan dan kondisi kesehatan.
Sedangkan pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinik yang meliputi :
a. Pengkajian afek dan sikap (Apakah pasien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi, apatis atau preokupasi)
b. Perilaku (Apakah pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci atau buku keagamaan, dan apakah pasien seringkali mengaluh, tidak dapat tidur, bermimpi buruk, dan berbagai bentuk gangguan tidur lainnya, serta bercanda yang tidak sesuai atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama)
c.Verbalisasi (Apakah pasien menyebut Tuhan, doa, rumah ibadah atau topik keagamaan lainnya, apakah pasien pernah minta dikunjungi oleh pemuka agama, dan apakah pasien mengekspresikan rasa takutnya terhadap kematian)
d. Hubungan interpersonal (Siapa pengunjung pasien, bagaimana pasien berespon terhadap pengunjung, apakah pemuka agama datang mengunjungi pasien, dan bagaimana pasien berhubungan dengan pasien yang lain dan juga dengan perawat)
e. Lingkungan (Apakah pasien membawa kitab suci atau perlengkapan ibadah lainnya, apakah pasien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan dan apakah pasien memakai tanda keagamaan misalnya jilbab). Terutama dilakukan melalui observasi. (Hamid, 2000).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
            Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan informasi kedalam diagnosa keperawatan yang sesuai, perawat harus mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari perspektif holistik, dengan spiritualitas sebagai prinsip kesatuan (Farran, 1989). Setiap diagnosa harus mempunyai faktor yang berhubungan dengan akurat sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan berlangsung (Potter and Perry, 1997).
            Diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan masalah spiritual menurut North American Nursing Diagnosis Association (2006) adalah distres spiritual. Pengertian dari distres spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dihubungkan dengan agama, orang lain, dan dirinya.
            Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2006) batasan diagnosa keperawatan distres spiritual adalah :
a. Berhubungan dengan diri, meliputi mengekspresikan kurang dalam harapan, arti, tujuan hidup, kedamaian, penerimaan, cinta, memaafkan diri, keberanian, marah, rasa bersalah, koping yang buruk.
b. Berhubungan dengan orang lain, meliputi menolak berinteraksi dengan teman, keluarga, dan pemimpin agama, mengungkapkan terpisah dari sistem dukungan, mengekspresikan keterasingan.
c. Berhubungan dengan seni, musik, literatur dan alam, meliputi tidak mampu mengekspresikan kondisi kreatif (bernyanyi), tidak ada ketertarikan kepada alam, dan tidak ada ketertarikan kepada bacaan agama
d. Berhubungan dengan kekuatan yang melebihi dirinya, meliputi tidak mampu ibadah, tidak mampu berpartisipasi dalam aktifitas agama, mengekspresikan marah kepada Tuhan, dan mengalami penderitaan tanpa harapan.
            Menurut North American Nursing Diagnosis Association (2006) faktor yang berhubungan dari diagnosa keperawatan distres spiritual adalah mengasingkan diri, kesendirian, atau pengasingan sosial, cemas, kurang sosiokultural/ deprivasi, kematian dan sekarat diri atau orang lain, nyeri, perubahan hidup, dan penyakit kronis diri atau orang lain.
a. Bagaimana penyesuaian terhadap penyakit yang berhubungan dengan ketidakmampuan merekonsilasi penyakit dengan keyakinan spiritual.
b. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kehilangan agama sebagai dukungan utama
c. Takut yang berhubungan dengan belum siap untuk menghadapai kematian dan pengalaman kehidupan setelah kematian.
d. Berduka yang disfungsional : keputusasaan berhubungan dengan keyakinan bahwa agama tidak mempunyai arti.
e.  Keputusasaan berhubungan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang peduli termasuk tuhan
f.  Ketidakberdayaan berhubungan dengan perasaan menjadi korban
g.  Disfungsi seksual berhubungan dengan konflik nilai
h.  Pola tidur berhubungan dengan distress spiritual
i.  Resiko tindak kekerasan terhadap diri sendiri berhubunga ndengan perasaan bahwa hidup tidak berarti

3. PERENCANAAN
            Dengan menetapkan rencana perawatan, tujuan ditetapkan secara individual, dengan mempertimbangkan riwayat klien, area beresiko, dan tanda-tanda disfungsi serta data obyektif yang relevan (Hamid, 2000).
            Menurut (Munley, 1983 cit Potter and Perry, 1997) terdapat tiga tujuan untuk pemberian perawatan spiritual yaitu klien merasakan perasaan percaya pada pemberi perawatan, klien mampu terkait dengan anggota sistem pendukung, pencarian pribadi klien tentang makna hidup meningkat. Tujuan askep klien distress spiritual berfokus pada menciptakan lingkungan yang mendukung praktik keagamaan dan keyakinan yang biasa dilakukannya.
Klien dengan distress spiritual akan :
a. Mengidentifikasi keyakinan spiritual yang memenuuhi kebutuhan
b. Menggunakan kekuatan keyakinan, harapan dan rasa nyaman ketika menghadapi penyakit.
c. Mengembangkan praktik spiritual yang memupuk komunikasi dengan diri sendiri, Tuhan dan dunia luar
d. Mengekspresikan kepuasan dengan keharmonisan antara keyakinan spiritual dengan kehidupan sehari-hari.
Kriteria hasil yang diharapkan klien akan :
a. Menggali akar keyakinan dan praktik spiritual
b. Mengidentifikasi factor dala mkehiduapn yang menantang keyakinan spiritual
c. Menggali alternative : menguatkan keyakinan
d. Mengidentifikasi dukungan spiritual
e.  Melaburkan / mendemonstrasikan berkurangnya distress spiritual setelah keberhasilan intervensi.
            Pada dasarnya perencanaan pada klien distress spiritual dirancang untuk memenuhi kebutuhan klien dengan membantu klien memnuhi kewajiban agamanya dan menggunakan sumber dari dalam dirinya.

4. IMPLEMENTASI
            Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan melakukan prinsip - prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut (Hamid, 2000) :
a. Periksa keyakinan spiritual ibadah
b. Fokuskan perhatian pada persepsi klien terhadap kebutuhan spritualnya.
c.  Jangan mengasumsi klien tidak mempunyai kebutuhan spiritual
d. Mengetahui pesan non verbal tentang kebutuhan spiritual pasien
e.  Berespon secara singkat, spesifik dan factual
f.  Mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti menghayati masalah klien
g.  Menerapkan tehnik komunikasi terapeutik dengan tehnik mendukung menerima, bertanya, memberi infomasi, refleksi, menggali perasaan dan kekuatan yang dimiliki klien
h. Meningkatkan kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau pesan verbal kien
i.  Memahami masalah klien tanpa menghukum walaupun tidak berarti menyetujui klien
j.  Menentukan arti dari situasi klien, bagaimana klien berespon terhadap penyakit. Apakah klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan hukuman, cobaan atau anugrah dari Tuhan ?
k. Membantu memfasilitasi klien agar dapat memenuhi kewajiban agamanya
l.  Memberitahu pelayanan spiritual yang tersedia di Rumah Sakit.

            Menurut Amenta dan Bohnet (1986) cit Govier (2000) ada empat alat / cara untuk membantu perawat dalam menerapkan perawatan spiritual yaitu :
a. Menyimak dengan perilaku wajar.
b. Selalu ada.
c.  Menyetujui apa yang dikatakan klien.
d.  Menggunakan pembukaan diri.
            Perawat berperan sebagai komunikator bila pasien menginginkan untuk bertemu dengan petugas rohaniawan atau bila menurut perawat memerlukan bantuan rohaniawan dalam mengatasi masalah spiritualnya.
            Menurut McCloskey dan Bulechek (2006) dalam Nursing Interventions Classification (NIC), intervensi dan diagnosa distres spiritual salah satunya adalah support spiritual. Definisi support spiritual adalah membantu pasien untuk merasa seimbang dan berhubungan dengan kekuatan Maha Besar. Adapun aktivitasnya meliputi :
a. Buka ekspresi pasien terhadap kesendirian dan ketidakberdayaan.
b. Beri semangat untuk menggunakan sumber – sumber spiritual.
c. Siapkan artikel tentang spiritual, sesuai pilihan pasien.
d. Tunjuk penasihat spiritual pilihan pasien.
e.  Gunakan teknik klarifikasi nilai untuk membantu pasien mengklarifikasi kepercayaan dan nilai, jika diperlukan.
f. Mampu untuk mendengar perasaan pasien.
g. Fasilitasi pasien dalam meditasi, berdoa atau ritual keagamaan.
h. Dengarkan dengan baik komunikasi pasien dan kembangkan rasa pemanfaatan waktu untuk berdoa atau ritual keagamaan.
i. Yakinkan kepada pasien bahwa perawat dapat mensupport pasien ketika sedang menderita.
j. Buka perasaan pasien terhadap rasa sakit dan kematian.
k. Bantu pasien untuk berekpresi yang sesuai dan bantu mengungkapkan rasa marah dengan cara yang baik.

5. EVALUASI
            Perawat mengevaluasi apakah intervensi keperawatan membantu menguatkan spiritualitas klien. Perawat membandingkan tingkat spiritualitas klien dengan perilaku dan kebutuhan yang tercatat dalam pengkajian keperawatan. Klien harus mengalami emosi sesuai dengan situasi, mengembangkan citra diri yang kuat dan realistis, dan mengalami hubungan interpersonal yang terbuka dan hangat. Keluarga dan teman, dengan siapa klien telah membentuk persahabatan dapat dijadikan sumber informasi evaluatif. Klien harus juga mempertahankan misi dalam hidup dan sebagian individu percaya dan yakin dengan Tuhan Yang Maha Kuasa atau Maha Tinggi. Bagi klien dengan penyakit terminal serius, evaluasi difokuskan pada keberhasilan membantu klien meraih kembali harapan hidup (Potter anfd Perry, 1997).
            Untuk mengatahui apakah pasien telah mencapai kriteria hasil yang ditetapkan pada fase perencanaan, perawat perlu mengumpulkan data terkait dengan pencapaian tujuan asuhan keperawatan.
Tujuan asuhan keperawatan tercapai apabila secara umum pasien mampu :
a. Mampu beristirahat dengan tenang.
b. Menyatakan penerimaan keputusan moral / etika.
c. Mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan.
d. Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama.
e. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya.
f. Menunjukkan afek positif tanpa perasaan marah, rasa bersalah dan ansietas.
g. Menunjukkan perilaku lebih positif.
h. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya.






BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan.
            Bahwasannya dalam keanekaragaman budaya dan aspek spiritualitas dalam keperawatan harus ada proses timbal balik dalam asuhan keperawatan antara perawat dan klien agar proses asuhan keperawatan dalam aspek keanekaragaman budaya dan aspek spiritual berjalan dengan baik.

3.2 Saran.
            Bagi mahasiswa keperawatan dan umumnya bagi ahli medis diharapakan mampu memahami dan menerapkan aspek keanekaragaman budaya dan aspek spiritualitas dalam asuhan keperawatan kepada klien.

















DAFTAR PUSTAKA

Hamid, A, Y., 1999, Buku ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya medika: Jakarta
Potter & ferry.2005,fundamental keperawatanI.jakarta:penerbit buku kedokteran EGC
Doenges, M. E., Moorhouse. M. F., Geisler. A. C., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC:Jakarta
http://ayubth.blogspot.com/2008/11/teori-transcultural-nursing-dalam.html

(Diakses pada tanggal 9 April 2014).
[Continue reading...]
 
Copyright © . BEING AS NURSE - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger