Blog ini di buat untuk sekedar share ilmu khususnya ilmu keperawatan yang telah saya dapatkan dari berbagai sumber. Mungkin masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam materi yang di posting di blog ini untuk itu mohon masukan dan kritikannya dan jangan lupa kalau copas disertakan yah url blognya sebagai referensi hehehe. (Semoga bermanfaat).

Senin, 19 Januari 2015

KEBUTUHAN OKSIGENASI



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
            Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan manusia. Dalam tubuh,oksigen berperan penting di dalam proses metabolism sel. Kekurangan oksigen akan menimbulkan dampak bermakna terhadap tubuh,salah satunya kematian. Karenanya,berbagai upaya perlu selalu dilakukan untuk menjamin agar kebutuhan dasar ini terpenuhi dengan baik. Dalam pelaksanaannya,pemenuhan kebutuhan dasar tersebut masuk ke dalam bidang garapan perawat. Karenanya,setiap perawat harus paham dengan manifestasi tingkat pemenuhan oksigen pada kliennya serta mampu mengatasi berbagai masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk itu,perawat perlu memahami secara mendalam konsep oksigenasi pada manusia.

1.2    Rumusan Masalah
1.      Apa itu kebutuhan oksigenasi  ?
2.      Apa sajakah sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi ?
3.      Bagaimana proses oksigenasi ?
4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi ?
5.      Ada berapa jenis-jenis pernafasan ?
6.      Bagaimana pengukuran fungsi paru ?
7.      Apa sajakah masalah kebutuhan oksigenasi ?
8.      Bagaimana proses keperawatan pada masalah kebutuhan oksigenisasi : masalah-masalah pada kebutuhan oksigenisasi, etiologi (patofisiologi) tiap masalah, pengkajian keperawatan,(anamnesa focus masalah, pemeriksaan fisik focus masalah, prosedur diagnostic/data penunjang), diagnose perawatan (DP), perencanaan keperawatan tiap DP?
9.      Bagaimana tindakan keperawatan tiap DP (latihan nafas, batuk efektif, pemberian oksigen, fisioterapi dada, penghisapan lender/suctioning), evaluasi keperawatan tiap DP ?




1.3    Tujuan
Makalah ini di buat dengan  tujuan agar mahasiswa, tenaga kesehatan atau tenaga medis dapat memahami dan mengaplikasikannya dilapangan khususnya mengenai kebutuhan oksigenasi.


1.4    Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar meminimalisir kesalahan dalam tindakan praktik keperawatan yang di sebabkan oleh ketidak pahaman dalam kebutuhan oksigenasi dalam keperawatan sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupan klien.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi kebutuhan oksigenasi.
Konsep dasar oksigenasi.
Oksigenasi adalah proses penambahan O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika). Oksigen (O2) merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolism sel. Sebagai hasilnya,terbentuklah karbon dioksida,energy,dan air. Akan tetapi,penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel.
Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow. Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam proses metabolism tubuh. Kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung lama akan terjadi kematian. Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan adalah sistem pernafasan,persyarafan,dan kardiovaskuler.
Kapasitas (daya muat) udara dalam paru-paru adalah 4.500-5.000 ml (4,5-51). Udara yang diperoses dalam paru-paru hanya sekitar 10% (kurang lebih 500 ml),yaitu yang dihirup (inspirasi) dan yang dihembuskan (ekspirasi) pada pernafasan biasa.

2.2 Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi.
Sistem pernapasan manusia memiliki organ-organ pernapasan yang menunjang proses pernapasan. Organ-organ pernapasan tersebut memiliki struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Organ-organ pernapasan manusia terdiri atas hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan alveous. Bagaimanakah struktur dan fungsi dari masing-masing organ pernapasan tersebut yang berperan dalam proses oksigenasi ? Perhatikan penjelasan berikut.
a. Organ Pernapasan Hidung
            Hidung merupakan alat pernapasan pertama yang dilalui oleh udara. Ujung hidung ditunjang oleh tulang rawan dan pangkal hidung ditunjang oleh tulang nasalis. Kedua tulang hidung menghubungkan rongga hidung dengan atmosfer untuk mengambil udara. Rongga hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis pipih dengan rambut-rambut kasar. Rambut-rambut kasar tersebut berfungsi menyaring debu-debu kasar. Rongga hidung tersusun atas sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang memiliki sel goblet. Sel goblet merupakan sel penghasil lendir yang berfungsi menyaring debu, melekatkan kotoran pada rambut hidung, dan mengatur suhu udara pernapasan. Sebagai indra pembau, pada atap atau rongga hidung terdapat lobus olfaktorius yang mengandung sel-sel pembau. Perjalanan udara memasuki paru-paru dimulai ketika udara melewati lubang hidung. Di lubang hidung, udara disaring oleh rambut-rambut di lubang hidung. Udara juga menjadi lebih hangat ketika melewati rongga hidung bagian dalam. Di rongga hidung bagian dalam, terdapat juga ujung-ujung saraf yang dapat menangkap zat-zat kimia yang terkandung dalam udara sehingga kita mengenal berbagai macam bau. Ujung-ujung saraf penciuman tersebut kemudian akan mengirimkan impuls ke otak.

b. Organ Pernapasan Faring.
            Setelah melalui rongga hidung, udara akan melewati faring. Faring adalah percabangan antara saluran pencernaan (esofagus) dan saluran pernapasan (laring dan trakea) dengan panjang kurang lebih 12,5–13 cm. Faring terdiri atas tiga bagian, yakni nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Faring merupakan pertemuan antara saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Oleh karena itu, ketika menelan makanan, suatu katup (epiglotis) akan menutup saluran pernapasan (glotis) sehingga makanan akan masuk ke saluran pencernaan. Pada percabangan ini, terdapat klep epiglotis yang mencegah makanan memasuki trakea.

c. Laring
            Setelah melewati faring, udara akan menuju laring. Laring sering disebut sebagai kotak suara karena di dalamnya terdapat pita suara. Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh sembilan tulang rawan. Salah satu dari sembilan tulang rawan tersebut adalah tulang rawan tiroid yang berbentuk menyerupai perisai. Pada laki-laki dewasa, tulang rawan tiroid lebih besar daripada wanita sehingga membentuk apa yang disebut dengan jakun.

d. Organ Pernapasan Trakea.
            Dari faring, udara melewati laring, tempat pita suara berada. Dari laring, udara memasukitrakea. Trakea disebut juga “pipa angin” atau saluran udara. Trakea memiliki panjang kurang lebih 11,5 cm dengan diameter 2,4 cm. Trakea tersusun atas empat lapisan, yaitu lapisan mukosa, lapisan submukosa, lapisan tulang rawan, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri atas sel-sel epitel berlapis semu bersilia yang mengandung sel goblet penghasil lendir (mucus). Silia dan lendir berfungsi menyaring debu atau kotoran yang masuk. Lapisan submukosa terdiri atas jaringan ikat. Lapisan tulang rawan terdiri atas kurang lebih 18 tulang rawan berbentuk huruf C. Lapisan adventitia terdiri atas jaringan ikat. Dinding trakea dilapisi oleh epitel berlapis banyak palsu bersilia. Epitel ini menyekresikan lendir di dinding trakea. Lendir ini berfungsi menahan benda asing yang pada membran sel epitel.

e. Bronkus dan Bronkiolus.
            Setelah melalui trakea, saluran bercabang dua. Kedua cabang tersebut dinamakan bronkus. Setiap bronkus terhubung dengan paru-paru sebelah kanan dan kiri. Bronkus bercabang-cabang lagi, cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus. Dinding bronkus juga dilapisi lapisan sel epitel selapis silindris bersilia. Di sekitar alveolus terdapat kapiler-kapiler pembuluh darah. Dinding kapiler pembuluh darah tersebut sangat berdekatan dengan alveolus sehingga membentuk membran respirasi yang sangat tipis. Membran yang tipis ini memungkinkan terjadinya difusi antara udara alveolus dan darah pada kapiler-kapiler pembuluh darah. Bronkus, bronkious, dan alveolus membentuk satu struktur yang disebut paru-paru.
            Paru-paru manusia terdiri dari sekitar 300 juta alveoli, yang merupakan kantung berbentuk cangkir dikelilingi oleh jaringan kapiler. Sel darah merah melewati kapiler dalam file tunggal, dan oksigen dari setiap alveolus memasuki sel darah merah dan mengikat hemoglobin. Selain itu, karbon dioksida yang terkandung dalam plasma dan sel darah merah meninggalkan kapiler dan memasuki alveoli ketika napas diambil. Kebanyakan karbon dioksida mencapai alveoli sebagai ion bikarbonat, dan sekitar 25 persen saja terikat longgar pada hemoglobin.
e. Alveolus.
            Bronkiolus bermuara pada alveoli (tunggal: alveolus), struktur berbentuk bola-bola mungil yang diliputi oleh pembuluh-pembuluh darah. Epitel pipih yang melapisi alveoli memudahkan darah di dalam kapiler-kapiler darah mengikat oksigen dari udara dalam rongga alveolus.
            Ketika seseorang menghirup, otot-otot tulang rusuk dan diafragma berkontraksi, sehingga meningkatkan volume rongga dada. Peningkatan ini menyebabkan penurunan tekanan udara di rongga dada, dan udara bergegas ke alveoli, memaksa mereka untuk memperluas dan mengisi. Paru-paru pasif memperoleh udara dari lingkungan dengan proses ini. Selama pernafasan, otot-otot tulang rusuk dan diafragma rileks, daerah rongga dada berkurang, dan meningkatkan tekanan udara internal. Udara yang dikompresi memaksa alveoli untuk menutup, dan udara mengalir keluar.
            Aktivitas saraf yang mengontrol pernapasan muncul dari impuls diangkut oleh serabut saraf yang lewat ke dalam rongga dada dan berakhir pada otot tulang rusuk dan diafragma. Dorongan ini diatur oleh jumlah karbon dioksida dalam darah:  tinggi konsentrasi karbon dioksida menyebabkan peningkatan jumlah impuls saraf dan tingkat pernapasan yang lebih tinggi.

2.3 Proses oksigenasi.
            Bernafas/pernafasan  merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :

1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
 Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :

a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru.
              Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
     Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.

Didalam literature yang lain dikatan bahwa proses oksigenasi terbagi menjadi 4 bagian :
  1. Ventilasi : Proses masuknya udara melalui hidung.
  2. Difusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan o2 yang terjadi di membrane alveoli kapiler.
  3. Transfortasi : Proses penyebaran o2 ke seluruh tubuh.
  4. Perfusi : Proses pertukaran o2 dan co2 menghasilkan co2 yang terjadi di kapiler.

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi.
Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.
1. Lingkungan
Pada lingkungan yang panas tubuh berespon dengan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer, sehingga darah banyak mengalir ke kulit. Hal tersebut  mengakibatkan panas banyak dikeluarkan melalui kulit. Respon demikian menyebabkan curah jantung meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat. Sebaliknya pada lingkungan yang dingin, pembuluh darah mengalami konstriksi dan penurunan tekanan darah sehingga menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen.
Pengaruh lingkungan terhadap oksigen juga ditentukan oleh ketinggian tempat. Pada tempat tinggi tekanan barometer akan turun, sehingga tekana oksigen juga turun. Implikasinya, apabila seseorang berada pada tempat yang tinggi, misalnya pada ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut, maka tekanan oksigen alveoli berkurang. Ini menindikasikan kandungan oksigen dalam paru-paru sedikit. Dengan demikian, pada tempat yang tinggi kandungan oksigennya berkurang. Semakin tinggi suatu tempat maka makin sedikit kandungan oksigennya, sehingga seseorang yang berada pada tempat yang tinggi akan mengalami kekurangan oksigen.
Selain itu, kadar oksigen di udara juga dipengaruhi oleh polusi udara. Udara yang dihirup pada lingkungan yang mengalami polusi udara, konsentrasi oksigennya rendah. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara optimal. Respon tubuh terhadap lingkungan polusi udara diantaranya mata perih, sakit kepala, pusing, batuk dan merasa tercekik.
2. Latihan
            Latihan fisik atau peningkatan aktivitas dapat meningkatkan denyut jantung dan respirasi rate sehingga kebutuhan terhadap oksigen semakin tinggi.
3. Emosi
Takut, cemas, dan marah akan mempercepat denyut jantung sehingga kebutuhan oksigen meningkat.

4. Gaya Hidup
Kebiasaan merokok akan memengaruhi status oksigenasi seseorang sebab merokok dapat memperburuk penyakit arteri koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh darah darah koroner. Akibatnya, suplai darah ke jaringan menurun.
5. Status Kesehatan
Pada orang sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi berfungsi dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat. Sebaliknya, orang yang mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernapasan dapat mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.
Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan status kesehatan.

2.5 Jenis pernafasan.
Berdasarkan organ yang terlibat dalam peristiwa inspirasi dan ekspirasi, orang sering menyebut pernapasan dada dan pernapasan perut. Sebenarnya pernapasan dada dan pernapasan perut terjadi secara bersamaan. Untuk lebih jelasnya perhatikan uraian berikut.
1.      Pernapasan dada
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
  1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
  2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
·         Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut:
Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal) berkontraksi –> tulang rusuk terangkat (posisi datar) –> Paru-paru mengembang –> tekanan udara dalam paru-paru menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar –> udara luar masuk ke paru-paru.
·         Mekanisme ekspirasi pernapasan dada adalah sebagai berikut:
Otot antar tulang rusuk relaksasi –> tulang rusuk menurun –> paru-paru menyusut –> tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara luar –> udara keluar dari paru-paru.

2. Pernapasan perut
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.
  1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
  2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

·         Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
sekat rongga dada (diafraghma) berkontraksi –> posisi dari melengkung menjadi mendatar –> paru-paru mengembang –> tekanan udara dalam paru-paru lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar –> udara masuk
·         Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut:
otot diafraghma relaksasi –> posisi dari mendatar kembali melengkung –> paru-paru mengempis –> tekanan udara di paru-paru lebih besas dibandingkan tekanan udara luar –> udara keluar dari paru-paru.

2.6 Pengukuran fungsi paru.
Tes fungsi paru (PFTs) – seperti namanya – tes yang dirancang untuk mengukur dan menilai fungsi paru-paru. PFTs awalnya alat-alat penelitian, yang tersedia hanya di pusat-pusat rumah sakit pendidikan. Sekarang alat-alat ini tersedia secara luas dan seringkali digunakan karena manfaatnya dalam diagnosis dan pengobatan asma. Perlu diingat ketika Anda membaca hasil pemeriksaan pada tes PFT bahwa kelainan fungsi paru yang terlihat pada asma aktif adalah reversibel.
Istilah PFTs digunakan untuk menggambarkan secara kolektif beberapa tes khusus yang berbeda dari fungsi paru-paru. Spirometri adalah PFTs yang paling berguna ketika digunakan dalam diagnosis dan pengobatan asma. Spirometri, pada gilirannya, termasuk dua subtes yang penting. Yang pertama disebut arus puncak ekspirasi yang disebut PEF. Yang kedua yaitu FEV1, volume ekspirasi paksaan dalam 1 detik. Pengukuran PEF dan FEV1 merupakan bagian atau subtes dari PFTs spirometri. Ketersediaan alat murah, sangat portabel, dan monitor arus puncaknya di rumah setiap hari untuk memantau aktivitas asma. Pengukuran FEV1, di sisi lain, memerlukan penggunaan spirometer, yang lebih mahal, memerlukan perawatan khusus, dan belum saat ini disarankan untuk digunakan di rumah. Pemantauan PEF sendiri memberikan penderita asma pengetahuan mengenai kondisinya dan mengizinkan penilaiian terhadap pengendali asma. Kedua PEF dan FEV1 memainkan peranan sangat penting pada Program Nasional Pendidikan dan Pencegahan Asma (NAEPP), mulai dari diagnosis asma, klasifikasi, dan panduan pengobatan.
Untuk melakukan spirometri dan PEF, pasien pertama diminta untuk menarik napas dalam. Kemudian, dihembuskan napas tunggal terbesar dengan kuat dan cepat ke mulut yang dihubungkan ke spirometer atau peak flow meter. Manuver ini diulang beberapa kali selama tes untuk memastikan nilai-nilai yang akurat dan reprodusibel. Spirometer mengukur volume paru-paru saat pengeluaran napas, serta aliran udara melalui mulut selama waktu ekshalasi berlangsung. Hasil pengukuran spirometri dicatat oleh spirometer, dicetak dan digambarkan untuk review dan referensi di masa mendatang. Setiap hasil pengukuran pasien dibandingkan dengan nilai prediksi. Nilai prediksi tes fungsi paru didasarkan pada tiga variabel : umur, tinggi badan, dan jenis kelamin. Nilai prediksi berbeda untuk seorang pria berusia 21 tahun, tinggi 182,88 cm dari wanita, berusia 64 tahun dengan tinggi 152,40 cm. Ini berarti bahwa nilai PEF (dan FEV1) yang dianggap dalam batas normal bagi wanita tua, pendek, penderita asma diatas, akan rendah abnormal jika diberlakukan untuk laki-laki tinggi, remaja, penderita asma, meskipun mereka berdua sama-sama penderita asma.
Karena asma dikarakteristikkan sebagai penyakit mengosongkan paru, dengan waktu ekshalasi memanjang abnormal pada gejala asma. Siapa pun dengan asma aktif yang mencoba untuk meniup semua lilin pada kue ulang tahun dengan satu hembusan udara yang kuat mengetahui akan terjadi gangguan pengosongan paru secara langsung! Tergantung pada derajat asma dan faktor lainnya, seperti berapa besar penyempitan saluran napas, atau bronkospasme, jika ada, ekshalasi penuh selama pemeriksaan spirometri mungkin berlangsung selama 14 detik sedangkan normal, 5 sampai 6 detik. Nilai FEV, dan PEF mencerminkan efisiensi dan status mengosongkan paru, dan dengan demikian memberikan informasi tentang bagaimana fungsi paru seorang penderita asma dipengaruhi oleh kondisinya.
FEV1 mengukur jumlah (volume) udara yang dihembuskan pada detik pertama dari ekshalasi paksaan selama pemeriksaan spirometri seperti Anda menghembuskan napas keluar sekuat dan secepat yang Anda bisa setelah Anda menarik napas dalam. Ketika gejala asma sangat tidak terkendali, diperlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk paru-paru menjadi kosong sepenuhnya. Karena waktu ekshalasi total memanjang pada gejala asma dan asma yang tidak terkendali dengan adekuat, maka jumlah (volume) udara yang dihembuskan selama detik pertama ekshalasi itu lebih rendah dari yang diperkirakan. Penurunan FEV1 terjadi pada gejala asma atau asma yang tidak terkendali. Dengan pengobatan, pengosongan paru lebih efisien, dan nilai FEV kembali ke batas normal. Ketika dicurigai terdapatnya gejala asma, pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan setelah inhalasi obat bronkodilator aksi pendek untuk mencapai keadaan FEV1 yang normal, fenomena ini disebut reversibilitas. Pedoman paling up-to-date  dari EPR ketiga (Laporan Panel Ahli) dari Institut Nasional Jantung, Paru, dan Darah mendefinisikan peningkatan 12% atau lebih dari acuan FEV1 pada spirometri setelah penggunaan bronkodilator merupakan respon yang signifikan.
Ketika asma dalam kondisi aktif atau dalam keadaan eksaserbasi asma akan memperpanjang ekshalasi, aliran udara melalui saluran udara yang menyempit menjadi berkurang. Pemeriksaan spirometri pada penderita asma aktif juga menunjukkan berkurangnya laju arus udara. Arus puncak merupakan nilai tunggal tertinggi dari pengukuran arus yang terjadi saat paru mulai mengosong.
Arus puncak mencerminkan aliran udara melalui saluran yang lebih bedar, yang disebut saluran napas penghantar pada asma. Arus puncak biasanya melacak aktivitas asma. Pemantauan arus puncak di rumah memungkinkan untuk perbandingan prediksi PEF seseoran, dengan hasil pengukuran terbaik personal yang aktual tersebut diperoleh saat asma terkendali dengan baik. Pemantauan PEF di rumah, selanjutnya dapat membantu mengidentifikasi bahkan untuk eksaserbasi ringan sekalipun dan memandu penyesuaian naik atau turun pengobatan, tergantung pada bagaimana nilai PEF berfluktuasi dari pengukuran terbaik personal. Hasil pengukuran PEF yang dilakukan sendiri dari waktu ke waktu merupakan komponen dari rencana tindakan asma.
Peak flow meter adalah perangkat yang mudah digunakan, dirancang untuk membantu Anda menilai tingkat pengendalian asma Anda. Orang yang menderita asma persisten sedang atau berat, orang dengan riwayat eksaserbasi berat, dan orang-orang yang mengalami kesulitan memahami ketika asma mereka memburuk, yang paling mungkin merasakan manfaat dari pemantauan arus puncak sendiri ini. Pemantauan jangka panjang, pengukuran arus puncak setiap hari dapat mendeteksi perubahan awal pada pengendali asma yang memerlukan penyesuaian dalam pengobatan dan membantu mengukur respon terhadap perubahan pengobatan tersebut. Pemantauan asma sendiri seharusnya tidak mengganggu. Sebaliknya, pemantauan arus puncak sehari-hari di rumah telah terbukti dapat meningkatkan pengendalian asma, mengurangi eksaserbasi, dan menurunkan ketidakhadiran di sekolah dan tempat kerja. Menggunakan pemantauan arus puncak juga dapat meningkatkan kepercayaan diri Anda karena membantu Anda mempelajari bagaimana mengoptimalkan pengendalian asma dan mencapaipengendalian asma yang lebih baik. Sebagian besar anak dapat secara akurat mengukur arus puncak mereka di bawah bimbingan  orang dewasa mulai dari usia sekitar 6 tahun. Pemantauan arus puncak juga memungkinkan untuk membuat keputusan yang objektif untuk memodifikasi rejimen asma Anda berdasarkan informasi yang terdapat dalam rencana tindakan asma tertulis yang telah disediakan dokter Anda.
Jika dokter Anda memberi resep untuk pemantauan arus puncak di rumah, Anda akan diminta untuk menentukan nilai terbaik personal berdasarkan pengukuran yang diperoleh saat Anda dalam keadaan baik dan bebas gejala. Rencana tindakan asma memberikan petunjuk tentang apa obat asma yang diambil sebagai nilai arus puncak, termasuk dalam salah satu dari tiga zona berlabel hijau, kuning, atau merah. Zona hijau meliputi pengukuran arus puncak dalam kisaran 80 – 100% dari personal terbaik Anda. Kuning berhubungan dengan pengukuran arus puncak dalam kisaran 60 – 80% dari nilai personal terbaik. Zona merah meliputi semua nilai arus puncak di bawah 60% dari yang terbaik. Pengukuran arus puncak di zona merah menunjukkan bahwa asma Anda sangat tidak terkendali, dan Anda perlu menghubungi dokter Anda, lanjutkan ke ruang emergensi, atau keduanya.
2.7 Masalah kebutuhan oksigen.
Masalah kebutuhan oksigen mengacu pada frekuensi,volume,irama,dan usaha pernapasan.pola napas yang normal ditandai dengan pernapasan yang tenang,berirama,tanpa usaha. Perubahan pola napas yng sering terjadi sebagai berikut :
a. Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhanoksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen di sel, sehingga dapat memunculkan tanda sepertikulit kebiruan (sianosis). 

b. Perubahan Pola Pernapasan
1. Takipnea, merupakan pernapasan dengan frekuensi lebih dari 24kali per menit. Proses ini terjadi karena paru-paru dalam keadaanatelektaksis atau terjadi emboli.
2. Bradipnea, merupakan pola pernapasan yang lambat abnormal, ±10 kali per menit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan peningkatan tekanan intracranial yang di sertai narkotik atausedatif.
3. Hiperventilasi, merupakan cara tubuh mengompensasimetabolisme tubuh yang melampau tinggi dengan pernapasan lebihcepat dan dalam, sehingga terjadi peningkatan jumlah oksigendalam paru-paru. Proses ini di tandai adanya peningkatan denyutnadi, napas pendek, adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasiCO2 dan lain-lain.
4. Kussmaul, merupaka pola pernapasan cepat dan dangkal yangdapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolic
5. Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkankarbondioksida dengan cukup pada saat ventilasi alveolar, sertatidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan oksigen.
6. Dispnea,  merupakan sesak dan berat saat pernapasan. Hal ini dapatdisebabkan oleh perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja berat/berlebuhan, dan pengaruh psikis.
7. Ortopnea, merupakan kesulitan bernapas kecuali pada posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yangmengalami kongesif paru-paru.
8. Cheyne stokes, merupakan siklus pernapasan yang amplitudonyamula-mula nik kemudian menurun dan berhenti, lalu pernapasandimulai lagi dari siklus baru. Periode apnea berulang secara teratur.
9. Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan dimana dinding paru-paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal. Sering ditemukan pada keadaan atelektasis.
10. Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengancheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
11. Stridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan. Pada umumnya ditmukan pada kasus spasme trachea atau obstruksi laring

c. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas merupakan suatu kondisi pada induvidudengan pernapasan yang mengalami ancaman, terkait denganketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dpat disebabkan olehsecret yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi;immobilisasi; statis skreasi; serta batuk tidak efektif karena penyakit persarafan seperti cerebro vascular accident (CVA), akibat efek  pengobatan sedative, dan lain-lain.Tanda klinis 
1)Batuk tidak efektif atau todak ada
2)Tidak mampu mengelurakan secret di jalan napas
3)Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
4)Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan tidak normal

d. Pertukaran gas

Pertukaran gas merupakan suatu kondisi pada individu yangmengalami penurunan gas, baik oksigen maupun karbondioksida, antar alveoli paru-paru dan system vascular. Hal ini dapat disebabkan olehsecret yang kental atau immobilisasi akibat system saraf; depresisusunan saraf pusat; atau penyakit radang pada paru-paru. Terjadinyagangguan dalam pertukaran gas ini menunjukkan bahwa penurunankapasitas difusi dapat menyebabkan pengangkutan O2 dari paru-paruke jaringan terganggu, anemia dengan segala macam bentuknya,keracunan CO2, dan terganggunya aliran darah. Penurunan kapasitasdifusi tersebut antara lain disebabkan oleh menurunnya luas permukaan difusi, menebalnya membrane alveolar kapiler, dan rasioventilasi perfusi yang itdak baik.Tanda klinis :

1. Dispea pada usaha napas
2. Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
3. Agistasi
4. Lelah, alergi
5. Meningkatnya tahanan vascular paru-paru
6. Menurunnya saturasi oksigen dan meningkatnya PaCO2
7. Sianosis

2.8 Proses keperawatan pada masalah kebutuhan oksigenisasi.
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1.      Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan).
            Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.

2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 – 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 – 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 – 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit yang sama.
5. Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
6. Riwayat psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7. Riwayat spiritual
8. Pemeriksaan fisik
a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d. Thoraks
Inspeksi :
• Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi elevasi ke atas.
• Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
• Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 – 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang lambat.
Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler, ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri.
Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi, ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi, ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah
• Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi, ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara pria besar
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Pola napas tidak efektif
3. Gangguan pertukaran gas
4. Penurunan kardiak output
5. Rasa berduka
6. Koping tidak efektif
7. Perubahan rasa nyaman
8. Potensial/resiko infeksi
9. Interaksi sosial terganggu
10. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
Tanda-tandanya :
• Bunyi napas yang abnormal
• Batuk produktif atau non produktif
• Cianosis
• Dispnea
• Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
• Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
• Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
• Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
• Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
• Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
• Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
• Immobilisasi
• Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi
2. Pola napas tidak efektif
Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
• Dispnea
• Peningkatan kecepatan pernapasan
• Napas dangkal atau lambat
• Retraksi dada
• Pembesaran jari (clubbing finger)
• Pernapasan melalui mulut
• Penambahan diameter antero-posterior
• Cianosis, flail chest, ortopnea
• Vomitus
• Ekspansi paru tidak simetris
Kemungkinan faktor penyebab :
• Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
• Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
• Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
• CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
• Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
• Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau oedema
• Penimbunan CO2 akibat penyakit paru
3. Gangguan pertukaran gas
Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis respiratori.
4. Penurunan kardiak output
Tanda-tandanya :
• Kardiak aritmia
• Tekanan darah bervariasi
• Takikhardia atau bradikhardia
• Cianosis atau pucat
• Kelemahan, vatigue
• Distensi vena jugularis
• Output urine berkurang
• Oedema
• Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)
Kemungkinan penyebab :
• Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung
• Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan reaksi kegagalan jantung
• Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit
• Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah
2.9 Tindakan keperawatan.
1. Latihan Napas
Latihan napas  merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara petukaran gas, mencegah atelektaksis , meningkatan efisiensi batuk, dan dapat digunakan untuk mengurangi stres.
Prosedur Kerja :
1).    Cuci tangan
2).    Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3).    Atur posisi ( duduk atau tidur terlentang )
4).    Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup.
5).    Kemudian anjurkan untuk menahan napas selama 1 -1,5 detik dan di susun dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut mecucu atau seperti orang meniup.
6).    Catat respons yang terjadi
7).    Cuci tangan

2. Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan membersihkan laring , trakea, dan bronkiolus dari sekret atau benda asing di jalan napas.
Prosedur kerja :
1).   Cuci tangan
2).   Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3).   Atur posisi pasien dengan duduk di tepi tempat tidur membungkuk ke depan
4).   Anjurkan untuk menarik napas secara pelan dan dalam dengan menggunakan pernapasan diafragma.
5).   Setelah itu tahan napas kurang lebih 2 detik
6).   Batukkan 2 kali dengan mulut terbuka
7).   Tarik napas dengan ringan
8).   Istirahat
9).   Catat respons yang terjadi
10). Cuci tangan.

3. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan oksigen kedalam paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen.Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu melalui kanul , nasal, dan masker dengan tujuan memenuhi kebutuhan oksigen oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Alat dan Bahan :
a)      Tabung oksigen lengkap dengan flowmeterdan humidifier
b)      Nasal kateter , kanula atau masker
c)      Vaselin/ lubrikan atau pelumas (jelly)


Prosedur kerja:
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Cek flowmeter dan humidifier
4.      Hidupkan tabung oksigen
5.      Atur posisi pasien semifowler atau sesuai dengan kondisi pasien
6.      Berikan oksigen melalui kanula atau masker
7.      Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga , setelah itu beri lubrikan dan masukkan .
8.      Catat pemberian dan lakukan observasi.
9.      Cuci tangan.

4.      Fisioterapi Dada
       Fisioterapi dada merupakan tindakan keperawatan dengan melakukan postural drainage , clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sisitem permapasan dengan tujuan meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan membersihkan jalan napas.
Alat dan Bahan
1.    Pot sputum berisi desinfektan
2.    Kertas tisu
3.    2 balok tempat tidur ( untuk postural drainage )
4.    1 bantal ( untuk postural drainage )

Prosedur kerja:

Postural drainage
1.        Cuci tangan
2.        Jelaskan prosedur yang di lakukan
3.        Miringkan ke kiri (untuk membersihkan bagian paru kanan )
4.        Miringkan ke kanan ( untuk membersihkan bagian paru kiri )
5.        Ke kiri dan tubuh bagian belakang kanann disokong dengan satu bantal ( untuk membersihkan bagian lobus tengah )
6.        Lakukan postural drainage kurang lebih 10 – 15 menit
7.        Observasi tanda vital selama prosedur
8.        Setelah pelaksanaan postural drainage dilakukan clopping , vibrating , dan suction.
9.        Lakukan hingga lendir bersih.

Clapping
1.        Cuci tangan.
2.         Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.        Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4.        Lakukan clapping  dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk.
5.        Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot sputum.
6.        Lakukan hingga lendir bersih.
7.        Catat respons yang terjadi.
8.        Cuci tangan

Vibrating
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.      Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi.
4.      Lakukan vibrating dengan cara anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan minta pasien untuk mengeluarkan napas perlahan-lahan.
Kedua tangan perawat diletakkan diatas bagian samping depan dari cekungan iga kemudian getarkan secara berlahan-lahan dan lakukan berkali-kali hingga pasien ingin membatukkan.
5.      Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung pada pot sputum.
6.      Lakukan hingga lendir bersih.
7.      Catat respons yang terjadi.
8.      Cuci tangan.

5.      Penghisapan Lendir
Penghisapan lendir (suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara sendiri dengan melakukan penghisapan (suction) untuk membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigenesi.

Alat dan Bahan :
1.      Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.
2.      Kateter penghisap lendir.
3.      Pinset steril.
4.      Sarung tangan steril.
5.      Dua buah kom berisi larutan aquades atau NaCl 0,9 % dan berisi larutan desinfektan.
6.      Kassa steril.
7.      Kertas tisu.

Prosedur Kerja
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan.
3.      Atur posisi pasien dengan posisi terlentang dengan kepala miring kearah perawat.
4.      Gunakan sarung tangan.
5.      Hubungkan kateter penghisap dengan selang panghisap.
6.      Hidupkan mesin penghisap.
7.      Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquades atau NaCl 0,9 % untuk mencegah trauma mukosa.
8.      Masukkan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
9.      Tarik dengan memutar kateter penghisap sekitar dari 3-5 detik.
10.  Bilas kateter dengan aquades atau NaCl 0,9 %.
11.  Lakukan hingga lendir bersih.
12.  Catat respons yang terjadi.
13.  Cuci tangan
(Hidayat, AAA dan Uliyah, M, 2005).




BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Kebutuhan oksigenasi merupakan salah satu kebutuhan dasar pada manusia yaitu kebutuhan fisiologis. Pemenuhuan kebutuhan oksigenasi ditujukan untuk menjaga kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidupnya, dan melakukan aktivitas bagi berbagai organ atau sel. Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
Banyak sekali faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenisasi seseorang. Bisa dari sistem tubuh, lingkungan, gaya hidup, dll. Dan ada beberapa cara yang dapat membantu menyembuhkan kelainan pada ganaguan kebutuhan oksigenisasi.

3.2 Saran.
Dari pemaparan diatas, kami memberikan saran dalam ilmu kesehatan khususnya ilmu keperawatan penting sekali memahami dan mahir memenuhi kebutuhan oksigenasi klien dalam asuhan keperawatan secara tepat agar terhindar dari kesalahan dalam tindakan baik itu dirumah sakit maupun di masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.

















DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz Alimul, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Joyce, K & Everlyn, R.H. (1996). Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : EGC
Mubarak,Iqbal wahit,2008,Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi Dalam Praktik,Jakarta : EGC

(Di akses pada tanggal 12 Oktober 2014 Pukul 14.15 WIB).

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . BEING AS NURSE - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger